Kiat Agar Tidak Malas Beribadah & Bekerja



Bismillah.

Segala puji dan puja teruntuk Allah Sang Pengatur Semesta. Shalawat dan salam untuk Rasulullah beserta keluarga, sahabat, dan pengikut beliau hingga Hari Perhitungan kelak.

Hari demi hari telah berlalu meninggalkan kita. Siang dan malam pun silih berganti menampakkan wajahnya di seluruh penjuru bumi, tanpa terkecuali bumi nubuwwah (kota Madinah) ini.

Pastinya, setiap orang akan tertimpa penyakit malas dan jenuh dalam menjalani tugas mulia nan agung (menyembah Allah semata) yang telah dibebankan kepada kita semua tanpa terkecuali semenjak hembusan nafas pertama kita di muka bumi.

Ada yang sering tertimpa penyakit ini, ada pula yang jarang, bahkan ada yang tidak dihampirinya kecuali jarang sekali. Begitu pula halnya yang terjadi dengan diri saya. Entahlah, apakah saya termasuk kategori pertama atau kedua? Yang pasti, saya harus segera berbenah diri dan memperbaiki 'sesuatu' yang salah dan tidak semestinya ada di dalam kamus hidup setiap pemuda.

Di kesempatan kali ini, saya tertarik untuk mengangkat tema seputar sikap malas. Disamping penyakit ini pernah menghinggapi setiap orang, dampak buruk yang ditimbulkannya juga sangat berbahaya bagi masa depan kita kelak, baik di dunia maupun di akhirat.
 
Satu Ini Masih Bisa Ditolerir

Malas adalah suatu kondisi yang bisa dianggap lumrah selama kita menjalani berbagai macam aktifitas penghambaan diri kepada Sang Pencipta. Namun kemalasan tersebut tidak boleh berhujung pada sikap yang mengabaikan ibadah yang wajib atau mengerjakan suatu kemaksiatan.

Malas boleh-boleh saja tetapi ia tidak boleh keluar dari koridor syar'i. Rasulullah telah menegaskan hal ini dalam sebuah haditsnya:

إنَّ لكلِّ عمل شِرَّة، والشِّرَّة إلى فَتْرة، فمَن كانت فَتْرَته إلى سنَّتي فقد اهتدى، ومَن كانت فَتْرَته إلى غير ذلك فقد ضلَّ

"Sungguh, di setiap amalan itu ada masa dimana semangat sedang tinggi, dan di setiap semangat yang tinggi tadi akan ada masa jenuh dan menurun. Barangsiapa yang selama masa jenuh tersebut tetap berada di dalam sunnah (petunjuk)ku maka ia telah diberi hidayah. Dan siapa saja yang semasa jenuhnya keluar dari hal itu (petunjukku) maka ia telah tersesat". [HR. Ahmad (6958)]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkomentar: "Rasa jenuh yang menghampiri orang-orang yang tengah meniti (jalan penghambaan diri kepada Allah) adalah hal yang lumrah dan pasti terjadi. Namun, siapa saja yang tetap berusaha agar tidak keluar jalur (walau hampir keluar), tidak sampai meninggalkan (ibadah) yang wajib, dan tidak pula sampai mengerjakan perbuatan yang haram maka orang seperti ini kemungkinan besar akan kembali lagi seperti kondisinya sedia kala (bersemangat). Makanya Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu pernah berucap: 

إنَّ لهذه القلوب إقبالًا وإدبارًا، فإذا أقبلت فخذوها بالنَّوافل، وإن أدبرت فألزموها الفرائض

"Sesungguhnya hati ini ada kalanya rajin dan ada kalanya malas. Bilamana ia sedang rajin maka arahkan ia untuk mengerjakan amalan-amalan sunnah. Dan bilamana ia sedang malas maka paksalah ia untuk tetap mengerjakan amalan-amalan wajib". [Madarijus Salikin (3/ 216)]

Jadi, uring-uringan boleh saja ketika penyakit malas sedang melanda. Tetapi hal tersebut tidak boleh menjadikan kita lupa dan lalai untuk mengerjakan ibadah wajib atau pun menjerumuskan kita kepada hal yang diharamkan Allah.

Karena Sifat Malas Sungguh Tercela

Jauhilah sifat malas sejauh mata memandang atau lebih jauh lagi sampai tidak terlihat. Sebesar apapun bentuk malas yang sedang menyapa kita maka kita harus tetap berjuang dan melawan, jangan pernah menyerah bak seorang pecundang karena hanya satu kondisi malas yang bisa ditolerir. Adapun selainnya, maka ia akan sangat merugikan dan membahayakan siapa saja yang menyambutnya dengan senyuman lebar.

Dikabarkan bahwa sifat malas itu hanya akan mengurangi keuntungan, merusak hasil produksi, dan membuat anjlok barang dagangan. Manakala seseorang sudah tertidur pulas di atas kasur kemalasan maka ia akan semakin lalai untuk mengejar berbagai amal kebaikan. [Mawaridudz Dzam'an (3/ 35)]

Ar-Raghib rahimahullah menegaskan: "Orang yang terbiasa malas dan suka bersantai maka ia justru akan kehilangan rehat (kelak)". [Faidhul Qadir (1/ 78)]

"Orang yang suka bermalas-malasan maka cita-citanya tidak akan kesampaian" tegas seorang al-Qannuji rahimahullah. [Ruhul Bayan (3/ 448)]


Kisah Menarik

Syaikh Abdul Aziz as-Salman rahimahullah membawakan sebuah kisah menarik yang sarat akan pesan berharga seputar sifat tercela satu ini di dalam buku beliau Mawaridudz Dzam'an:

Pernah suatu ketika ada sekelompok orang berdiri di hadapan seorang ulama sembari bertanya kepada beliau: "Kami ingin bertanya banyak hal kepada Anda, apakah Anda bersedia untuk menjawabnya?"

"Silahkan tanyalah tetapi jangan terlalu banyak karena waktu siang tidak akan kembali dan umur kita pun tidak akan terulang, dan setiap orang yang mencari sesuatu harus bersungguh-sungguh dalam mencarinya", jawab beliau yakin.

"Baiklah, kalau begitu berilah kami nasehat saja?", pinta orang-orang tadi.

Beliau pun menasehati: "Ambillah perbekalan sesuai dengan seberapa jauh perjalanan kalian (ke kampung akhirat); karena sebaik-baik bekal adalah bekal yang cukup untuk bisa mengantarkan kita ke tujuan".

"Hari-hari kita bak segulung lembaran umur maka isilah lembaran-lembaran itu dengan sebaik-baik amal ibadah. Kesempatan berlalu secepat awan berjalan, sedangkan sikap berleha-leha termasuk bagian dari watak pemalas dan pecundang. Siapa saja yang merasa nyaman berada di atas tunggangan kemalasan maka ia pasti akan terikat dengannya. Sikap berleha-leha telah terhubung erat dengan sifat malas maka akibat yang dihasilkan hanyalah kerugian belaka", tukas beliau menambahkan. [Mawaridudz Dzam'an (1/ 8)]

Demikian, semoga bermanfaat.

My Instagram