Kiat Mengobati Waswas Dari Masjid Nabawi

Bismillah. Alhamdulillah Rabbil álamin. Wasshalatu was salamu álal Mab'utsi rahmatal lil álamin.

Malam Selasa, 19 Dzul Qa'dah 1437 H, tepatnya ba'da maghrib hingga menjelang adzan isya, Syaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaily hafidzahullah sempat ditanya mengenai penyakit waswas setelah beliau selesai menyampaikan kajian rutin beliau di Masjid Nabawi.

Selepas beliau menyampaikan materi kajian tentang kitab Fathur Rahimil Malikil Állam fi Ilmil Aqa'idi wat Tauhid  karangan Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'dy rahimahullah pada malam itu, ada seorang penanya bertanya melalui secarik kertas dan dibacakan oleh Qa'ri beliau (orang yang ditugaskan oleh Syaikh Ibrahim untuk membacakan isi kitab yang akan dijelaskan oleh beliau sekaligus untuk membacakan sejumlah pertanyaan tertulis yang akan dijawab oleh beliau, Pen).

foto via hdwallsource.com
Isi pertanyaan dari salah satu hadirin yang dibacakan oleh si Qori' tadi di penghujung kajian adalah: Apa itu yang dimaksud dengan waswas qahry dan bagaimana cara menyembuhkannya?

Syaikh yang juga seorang dosen pasca sarjana jurusan Akidah di Fakultas Dakwah dan Ushuluddin, Universitas Islam kota Madinah, menjawab setelah mendengarkan pertanyaan tersebut dengan seksama. Beliau mengatakan:

Yang dimaksud dengan waswas qahry adalah penyakit yang menimpa seseorang yang menyebabkan dirinya mengalami pikiran-pikiran aneh dan halusinasi yang dapat membuatnya cemas atau khawatir terhadap sesuatu.

Demikian para dokter menyembutkan dan menerangkan penyakit yang satu ini, layaknya penyakit-penyakit lainnya yang bisa menimpa seseorang.

Adapun cara menyembuhkannya: adalah dengan berdoa dan sikap tawakkal kepada Allah. Itu yang pertama-tama dilakukan.

Kedua, dengan menggunakan metode rukyah syar'iyah (rukyah dengan bacaan Al-Qur'an ataupun dengan doa-doa rukyah yang ada di hadits-hadits Nabi, Pent). Karena rukyah adalah obat dan penangkal yang bisa digunakan terhadap berbagai penyakit. Seseorang dapat sembuh dengan izin Allah melalui doa dan bacaan rukyah syar'iyah tersebut.

Ketiga, adalah dengan menyibukkan hati dan pikiran kita dengan dzikir atau ibadah kepada Allah dan jangan biarkan pikiran dan hati kita kosong. Karena pikiran-pikiran yang muncul dari waswas qahry itu akan semakin kuat dampaknya terhadap hati yang kosong atau tidak tersibukkan.

Keempat, dengan tidak mendengarkan ataupun menggubris pikiran-pikiran dan halusinasi yang melintasi pikiran kita, yang bisa jadi juga berasal dari setan. Na'am.

Begitulah kiranya jawaban Syaikh yang telah ditunjuk oleh Pihak Pengurus Masjid Nabawi untuk menyampaikan ilmu melalui kajian-kajian rutin setiap harinya.

Selang beberapa pertanyaan yang sempat dijawab oleh Syaikh setelah itu, ada satu pertanyaan lagi yang diutarakan oleh salah satu orang yang hadir di kajian beliau malam itu tentang penyakit waswas lagi. Kemungkinan dari orang yang berbeda yang sama-sama mengalami masalah dengan penyakit waswas pada dirinya atau pada orang yang dikenalnya.

Melalui secarik kertas yang diserahkan kepada Qa'ri untuk dibacakan kepada Syaikh, si penanya bertanya tentang perlukah seseorang yang tengah ditimpa waswas untuk mengulang takbirnya jika ternyata ia dibuat ragu: apakah ia sudah mengucap takbir atau belum? Dan itu terjadi ketika ia sudah masuk ke dalam shalatnya?

Syaikh Ibrahim hafidzahullah pun menjawab pertanyaan tersebut sembari mengingatkan penanya dan seluruh hadirin yang hadir di kajian malam itu. Beliau berpesan:

Satu hal yang perlu diingat bahwa orang yang sedang terkena waswas maka ia tidak boleh mengulang takbirnya atau mengulangnya. Selama ia sudah memasuki ibadah shalat maka hendaknya ia meneruskannya hingga selesai tanpa perlu memperhatikan keragu-raguan yang muncul di pikirannya tadi.

Jelas itu adalah bisikan setan yang ingin mengacaukan ibadah orang tersebut. Maka hendaknya ia tidak mendengarkannya. Hal ini sebagaimana telah diterangkan oleh para Ulama tentang sikap yang benar terhadap keragu-raguan dalam ibadah bagi orang yang sedang terkena waswas.

Dan jangan lupa untuk mengobati waswas tersebut dengan ilmu syar'i. Karena waswas dapat dilawan dengan ilmu. Na'am.

Begitu kurang-lebih jawaban yang Syaikh berikan kepada penanya tersebut dan Qari beliau pun membacakan kembali pertanyaan yang lain. Tidak beberapa lama kemudian adzan isya mulai berkumandang dan Syaikh pun berhenti sejenak.

***


Catatan Penulis:
* Kajian Syaikh waktu itu bertepatan dengan musim haji sehingga tidak sedikit dari hadirin yang menyimaknya adalah jemaah haji dari luar Madinah dan banyak pertanyaan yang ditanyakan kepada beliau di luar materi kajian yang disampaikan. Salah satunya adalah tentang waswas.

* Penulis mengambil sedikit kesimpulan -wallahu a'lam- bahwa tidak sedikit orang yang tertimpa penyakit waswas. Hal ini terlihat dari 2 pertanyaan yang disampaikan kepada Syaikh malam itu yang berkaitan dengan waswas, sedangkan pertanyaan-pertanyaan yang lain tidak sampai terulang 2 kali. Maka jangan berkecil hati setiap muslim dan muslimah yang tengah dicoba dengan cobaan berupa waswas! Karena Anda bukan orang satu-satunya yang terkena waswas maka jangan pernah malu maupun berhenti untuk terus berusaha untuk mengobatinya. Semoga Allah segera mengangkat penyakit Anda.

Demikian dan semoga bermanfaat.

***
 
Artikel Terkait:


0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram