Jawaban Terindah Dari Seorang Imam Darul Hijrah

"Segala sesuatu yang ditujukan kepada Allah semata niscaya ia akan tetap ada, tak lekang oleh masa"

foto via hdwallsource.com
Begitulah kiranya jawaban seorang imam madzhab yang terkenal dan tersohor. Seorang imam yang dijuluki Imam Dar Hijrah (kota Madinah). Ketika beliau hendak mengarang sebuah kitab muwaththa, para murid beliau coba mengingatkan beliau perihal kitab-kitab muwaththa yang sudah ada di tengah masyarakat. "Jadi buat apa lagi menulis kitab muwaththa?", ujar murid-murid beliau.

Beliau hanya melontarkan kalimat indah tadi sebagai jawaban untuk mereka. Sungguh kata-kata yang sarat akan keyakinan seorang mukmin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan usaha hambaNya jika hamba tadi berusaha memurnikan tujuaannya hanya untuk Allah semata.

Kata-kata indah yang menggambarkan kebersihan hati pemiliknya dari berbagai penyakit hati semacam ujub (bangga diri) maupun hasad (iri hati), justru menampakkan sikap tawadu' (rendah hati) beliau.


Beliau tidak sekalipun menjawab dengan ucapan "kitab-kitab muwaththa yang ada itu kurang berbobot, tidak bagus", tidak pula dengan ucapan "Aku ingin kitab muwaththa ku lah yang akan disenangi dan dikenal luas di masyarakat".

Tidak. Sekali-kali beliau tidak menjawab seperti itu. Jawaban rendah yang menunjukkan jiwa yang kerdil dan mental yang hanya secuil. Jawaban yang mengindikasikan sikap sombong dan ujub pengucapnya. Ataupun jawaban yang mengisyaratkan hasrat pemiliknya untuk tampil menonjol dan menyaingi penulis-penulis lain. Sekali lagi tidak!

Beliau rahimahullah dengan santun dan penuh adab menjawab dengan jawaban bahwa segala hal yang dipersembahkan untuk Allah niscaya Allah akan menjadikannya kekal bertahan, tidak pudar ditelan masa.

Jika menuntut ilmu kita, ceramah kita, tulisan kita, situs kita, video kita, dan lain-lainnya yang berhubungan dengan kehidupan kita, jika memang disitu ada keikhlasan yang tersemat, jika memang hanya ada niatan meraih pahala dan ridha Pencipta maka sungguh demi Allah, itu semua akan tetap bertahan bahkan ketika kita sudah berada di alam kubur sekalipun.

Begitulah kiranya pesan yang coba ditanamkan oleh imam besar tadi. Beliau ingin menerangkan bahwa ketika ada keikhlasan yang menyertai suatu usaha, suatu amal perbuatan maka itu akan berhujung manis sembari ada pengharapan agar amal perbuatan tersebut diterima oleh Sang Pencipta dan Pengatur semesta.

Makanya tidak heran jika seorang ulama sekaliber Ibnul Mubarak ikut berkomentar perihal sepak terjang Imam Malik, "Sungguh, Aku tidak dapati ada yang begitu dikenal luas dan berilmu tinggi melebihi Malik. Aku cermati dia bukanlah orang yang punya banyak amalan shalat dan puasa. Namun Aku mengira bahwa dia memiliki amalan tersembunyi" tutur Imam Ibnul Mubarak.

Jika banyak-banyakan amalan shalat dan puasa maka ada yang jauh lebih banyak shalat dan puasanya ketimbang Imam Malik. Namun justru yang lebih terkenal di tengah-tengah kaum muslimin di zaman itu adalah Imam Malik bin Anas.

Begitu pula halnya para penuntut ilmu. Jangan terlalu memikirkan tentang bagaimana agar dikenal dekat dengan syeikh atau ustadz. Jangan terlalu fokus dengan pilihan kata dan gaya bertutur kata ketika menyampaikan kajian. Jangan pula terlalu memperhatikan penampilan ketika tampil di depan namun melupakan sisi keikhlasan.

Bukan berarti penulis melarang itu semua. Bukan. Maksud penulis adalah agar kita berusaha tidak melupakan inti yang sesungguhnya dari setiap amalan, yaitu keikhlasan.

Jika kita berupaya agar amal perbuatan kita tertuju untuk Allah maka tidak masalah hal-hal yang diatas tadi juga diperhatikan seperti pilihan kata, gaya penyampaian, dan penampilan. Itu ibarat kebaikan kuadrat.

Silahkan perhatikan pilihan kata indah, penyampaian yang bagus, dan penampilan yang memukau. Tetapi jangan dilupakan unsur paling pentingnya yaitu "ma kana lillahi baqin" (yang tertuju untuk Allah itulah yang bertahan).

Sungguh, tidak sedikit kita dapati syeikh atau ustad yang penyampaiannya begitu sederhana, bahkan cenderung mendatangkan kantuk, kata-katanya biasa namun Allah limpahkan berbagai keutamaan padanya sebagai cerminan ridha dariNya. Baik itu dengan semakin bertambahnya murid-murid beliau atau pun semakin harumnya nama beliau.

Sungguh, jika kita cermati pula, ada penulis yang gaya penulisannya sangat biasa, diksi atau pilihan katanya pun juga sederhana, namun tulisan beliau sangat terkenal dan tersebar luas di tengah-tengah kaum muslimin.

Allahu akbar. "Ma kana lillahi baqin".

Kata-kata yang begitu dalam kandungan maknanya. Semoga Allah memudahkan kita semua meniti jalan mereka, orang-orang yang berbahagia karena meraih cinta dan ridha Pencipta dari kalangan para nabi dan salafus shalih (para sahabat, tabi'in, dan tabiut tabi'in). Amin ya Rabbal 'Alamin.

Semoga tulisan kali ini bermanfaat.



0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram