Tips Menghadapi Ujian Magister - Bag 1

Saya persembahkan tulisan ini untuk setiap mahasiswa program S1 di Universitas Islam Madinah yang ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi, program Master di kampus tercinta.

Saya tulis tulisan ini untuk setiap adik tingkat saya yang segan untuk bertanya langsung kepada saya seputar persiapan menghadapi ujian Master, mungkin karena malu, mungkin kurang mengenal satu sama lain, mungkin tidak ingin mengganggu kesibukan saya, ataupun mungkin kesempatan bertemu yang jarang.

Yang jelas, tulisan ini hanya berisi pengalaman dan pandangan saja. Pengalaman penulis tatkala menghadapi ujian Magister untuk Jurusan Akidah di Universitas Islam Madinah, KSA. Mana tahu, ini bermanfaat untuk mahasiswa yang sedang mempersiapkan diri untuk ujian masuk program Master.

Kawan, bermimpi untuk melanjutkan study ke jenjang yang lebih tinggi di universitas ini, Universitas Islam Madinah, boleh-boleh saja, tidak ada yang melarang. Pintunya pun selalu terbuka lebar. Tentunya, ada usaha yang harus dilakukan, ada keringat yang harus dikucurkan, ada waktu yang harus disisihkan, dan masih banyak lagi yang harus dikorbankan.
foto via hdwallsource.com

Tidak berlebihan jikalau saya berkata seperti ini. Disamping peserta yang mendaftar banyak, kuota yang disiapkan pun hanya sedikit. Jadi, persaingan untuk merebut kursi yang tersedia sangat ketat. Apalagi jurusan yang dituju adalah jurusan favorit. 

Pastinya, banyak mahasiswa pintar dari berbagai bangsa dan negara yang ingin melanjutkan ke jurusan-jurusan favorit ini.


Yang Paling Pertama dan Utama
Tahap pertama sebelum Anda melangkah lebih jauh adalah tanyakan pada diri Anda sendiri: Apa tujuan Anda mengambil program pasca sarjana, Magister?

Saya tidak sedang menanyai Anda, tapi Anda lah yang menanyai diri Anda kemudian Anda menjawabnya, tanpa perlu diketahui siapa pun, termasuk orang terdekat Anda.

Yakinlah, bila Anda jujur kepada diri sendiri dalam hal ini maka Allah akan mempermudah tercapainya tujuan Anda, jika tujuan itu mulia.


Tentukan Jurusan Yang Dituju
Tahap kedua jika Anda ingin mengambil program pasca sarjana adalah menentukan jurusan sesuai minat dan kecondongan Anda.

Ketika saya berniat melanjutkan program Master, saya sempat bingung untuk menentukan jurusan yang dituju. Saya mempertimbangkan berkali-kali peluang, persaingan dan kemampuan diri untuk jurusan yang saya inginkan, Jurusan Akidah.

Terlebih, jurusan yang satu ini termasuk jurusan favorit di Universitas Islam Madinah. Jelas saja, banyak peminatnya namun sedikit kursinya. Persaingan untuk memperebutkan kursi yang tersedia pun semakin ketat.

Bukan hanya disitu, perlu tenaga dan pikiran ekstra untuk menguasai materi akidah yang sangat luas. Mulai dari Tauhid Rububiyah, Uluhiyah, Asma wa Shifat, Adyan, Firaq, Iman dengan Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Akhir, serta Qadha dan Qadr, lengkap dengan bantahan-bantahan setiap kerancuan yang ada di masing-masing bab tersebut.

Istikharah (meminta petunjuk Allah) akan sangat berperan untuk menentukan langkah kita selanjutnya. Dan Istisyarah(meminta pendapat) kepada orang-orang yang Anda anggap mampu memberikan masukan positif, juga tidak kalah penting.

Saya beristikharah, meminta petunjuk dalam menentukan jurusan hingga akhirnya Allah memantaptan saya untuk memilih jurusan ini. Dukungan, motivasi, dan masukan pun saya dapatkan dari orang-orang sekitar saya, orang tua, teman, dan dosen.


Inilah Ujian Yang Sesungguhnya
Kecemasan akan selalu menghampiri Anda selama persiapan ini. Kecemasan jika gagal dalam ujian ini. Kecemasan jika kalah bersaing dengan teman se negara. Kecemasan jika tidak ada dukungan dosen. Dan kecemasan-kecemasan lain yang beraneka ragam jenis dan bentuknya.

Ini adalah ujian sesungguhnya sebelum ujian masuk magister. Terlebih, bagi Anda yang tengah muraja'ahmateri akidah, hal ini akan sangat terasa.

Anda mempelajari seputar takdir dengan rinci, makna tawakkal kepada Allah, hakikat doa, dan sebagainya. Anda mungkin menguasai materi ini atau bahkan menghafalnya. Akan tetapi, sebelum Anda menjawab soal demi soal ujian nanti, jawablah kecemasan-kecemasan yang menimpa Anda dengan keimanan yang tersemat di hati Anda bahwa takdir Anda tidak akan salah. Ada Allah, Maha Kuasa lagi Maha Pemurah tempat kita menggantungkan asa. Ada doa yang kita bisa panjatkan sebagai senjata.

Semua materi akidah tidak hanya dipelajari dan dihafal, tetapi cobalah mempraktekkannya dalam kehidupan dan masalah kita sehari-hari.

Saya pun mengalami hal itu. Sepanjang persiapan ini, kadang ada kabar yang berhembus bahwa tahun ini kursi yang disediakan hanya 10 kursi, kadang ada pula kabar bahwa setiap negara hanya akan diterima satu orang saja jika ada lebih dari satu orang se negara yang ikut ujian, bahkan kabar tentang teman yang sudah dijamin keterima sebelum ujian pun juga ada.

Kabar-kabar yang menggemboskan semangat, menciutkan nyali, dan menggoyang keyakinan kita. Namun sekali lagi saya katakan, inilah ujian akidah yang sesungguhnya bagi Anda. Jika Anda mampu mengatasinya maka insyaAllah, Anda akan dipermudah untuk menjawab lembaran soal nanti.

Adukan kepada Allah, akui bahwa Anda lemah. Anda membutuhkan taufik dan petunjuk Allah dalam hal ini. Kepintaran, banyaknya hafalan, dan bantuan dosen tidak akan berguna dan bukan jaminan jika Anda terus bersandar dengan itu semua dan lupa dengan Allah.

Adukan setiap kesulitan yang Anda hadapi. Mintalah ketenangan hati untuk melawan kecemasan yang melanda. Pasrahlah kepada Allah, serahkan urusan Anda kepadaNya dan tetaplah berusaha. Tentu, Allah akan selalu memilihkan yang terbaik untuk Anda.

bersambung...

 

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram