Yang Spesial Dari Universitas Islam Madinah Di Tahun 2008

foto via hdwallsource.com
Bismillah. Alhamdulillahi Rabbil 'alamin. Washshalatu wassalamu ála Khairil bariyyati ajma'in. Wa ba'du:

Segala pujian tertuju hanya kepada Allah, Rabb yang memberi segala nikmat dan karuniaNya kepada para hambaNya. Shalawat dan salam semoga selalu terhatur untuk junjungan kita, Nabi Mumammad beserta keluarga dan segenap sahabat beliau hingga akhir zaman kelak.

Tidak dapat dipungkiri bahwa belajar di kota Nabi merupakan sebuah nikmat besar yang begitu diidam-idamkan oleh hampir setiap pemuda muslim dimana pun berada. Bagaimana tidak!? Disamping ada banyak alim ulama dan para pakar yang mumpuni lagi memperjuangkan tauhid dan sunnah (metode beragama) Nabi disana, kota ini juga merupakan kota suci kedua umat Islam yang memiliki sejumlah keutamaan.

Bayangkan saja, bisa menimba ilmu langsung dari majelis-majelis ilmu yang diadakan di dalam Masjid Nabawi, meraih keutamaan pahala shalat di Masjid Nabi yang setara dengan  1000 shalat di selain Masjid Nabawi, dan kesempatan untuk berhaji dan umrah yang begitu terbuka lebar, itu semua adalah sedikit contoh berbagai keutamaan yang bisa diraih dengan kuliah di salah satu kampus kebanggaan kota suci ini, Universitas Islam kota Madinah Nabawiyah ini.

Dengan segudang keutamaan dan kelebihan belajar di kota tercinta ini, namun tetap saja ada hal yang sedikit mengusik pikiran saya sehingga saya ingin menuangkannya disini agar meringankan 'unek-unek' tersebut. Tidak ada yang salah dengan kampus kebanggaan penduduk kota Madinah itu. Tidak ada yang berbeda dengan kehidupan di dalam dan di luar kampus tersebut. Tidak ada yang berubah dengan kurikulum dan para pengajar disana.

Walau demikian, ada satu hal yang berbeda. Satu sisi dari Universitas Islam yang sedikit terkikis, yaitu semangat para mahasiswanya. Ini bermula ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di kota suci ini dan di kampus ini. Maka perkenankan saya membagi cerita dan pengalaman saya yang tidak penting itu kepada Anda semua.

***

Itulah Salah Satu Tahun Terindah Saya
Tahun 2008, tepatnya sekitar bulan Agustus adalah satu dari sekian banyak tahun terindah yang saya alami dalam hidup ini. Bagaimana tidak!? Untuk pertama kalinya saya berkesempatan melihat langsung kota yang mana seorang Nabi terbaik pernah menjalani sebagian besar lembaran-lembaran indah hidupnya disini hingga hembusan nafas terakhirnya.

Untuk pertama kalinya pula, saya menapakkan kaki di universitas yang telah menghasilkan banyak juru dakwah yang memperjuangkan dan menyerukan tauhid di berbagai penjuru dunia. Indonesia adalah salah satunya. Ada sekitar belasan bahkan puluhan jumlah lulusan Universitas Islam Kota Madinah ini yang berkiprah dalam dunia dakwah dan pendidikan di negeri kita, Indonesia sana.

Sebut saja Ustadz Armen Halim Naro rahimahullah, Ustadz Maududi Abdullah, Ustadz Abu Zubair, dan sejumlah juru dakwah lain yang berjuang di pulau sumatera sana. Adapula Ustadz Khairullah Anwar, Ustadz Aiman Abdillah, Ustadz Ahmad Zainudin, dan sejumlah da'i yang memikul beban dakwah di pulau kalimantan. Begitu pula para Doktor lulusan kampus ini, Dr. Ali Musri, Dr. Muhammad Arifin Badri, Dr. Muhammad Nur Ihsan, dan Dr. Syafiq Basalamah, mereka pun turut serta dalam memajukan dakwah dan pendidikan Indonesia, terkhusus kota Jember. Dan banyak lagi lulusan Universitas Islam Kota Madinah ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Baiklah, kembali ke cerita saya. Yang terlintas pertama kali di benak saya tatkala menginjakkan kaki disana adalah betapa beruntungnya setiap orang yang terpilih untuk mendapatkan kesempatan menimba ilmu di kampus kebanggaan dan di kota suci ini. Sungguh merupakan kerugian jika para pemuda yang dipilih tersebut menyia-nyiakan waktu yang diberikan. Dan merupakan pengkhianatan amanah belajar yang telah dibebankan oleh Kerajaan Arab Saudi kepada mereka jika itu tidak dimanfaatkan betul-betul guna menggali ilmu di kota ini.

Yang menyambut kedatangan kami, mengarahkan pengurusan berkas kami, dan membimbing kami, para mahasiswa baru kala itu dengan untaian-untaian nasihat dan semangat adalah senior-senior kami yang duduk di jenjang pasca sarjana semisal Ustadz Muhammad Arifin Badri, Ustadz Syafiq Basalamah, Ustadz Muhammad Nur Ihsan, Ustadz Aspri Rahmat, Ustadz Abdullah Taslim, Ustadz Abdullah Zain, Ustadz Abdullah Roy, dan yang lainnya.

Mereka meluangkan waktu, tenaga, dan tempat tinggal mereka untuk para mahasiswa baru guna berkonsultasi dan bertanya seputar belajar yang baik disini. Atau sekedar ramah-tamah pun mereka persilahkan. Para senior yang memotivasi, fasilitas yang memadai, uang saku bulanan yang mencukupi, dan suasana menimba ilmu yang kondusif disini, itu semua menjadi pelecut semangat kami untuk berusaha memanfaatkan waktu sebaik-baiknya selama berada disini dengan hal yang bermanfaat.

***

Kondisi Penuntut Ilmu Kala Itu
Saat itu, kondisi benar-benar bagus, membuat orang yang malas sekali pun akan ikut bersemangat karena termotivasi dengan kobaran semangat orang-orang sekitar. Pemandangan yang sedap dilihat.

Berbagai jenis media sosial atau situs jejaring sosial seperti facebook, twitter, dan yang lainya belumlah sepopuler seperti sekarang ini. Berbagai hp canggih pun belumlah dimiliki semua orang; yang bisa mengikis semangat belajar kala itu sangatlah minim. Film dan game, itu barangkali salah satunya. Dan itupun tidak menjangkiti kecuali segelintir mahasiswa saja.

Bukan berarti saya disini menyalahkan kemunculan teknologi yang semakin canggih ini karena ia hanyalah laksana pisau bermata dua; yang jika dimanfaatkan dengan baik maka dapat mendatangkan kebaikan pula, begitupun sebaliknya.

Sebagian besar dari para penuntut ilmu tersebut, mereka lebih banyak menyibukkan diri dengan belajar, membaca, dan menghapal. Begitulah kiranya yang masih tersimpan di memori ingatan saya.

Selepas shalat shubuh, saya dapati para penuntut ilmu berlomba-lomba dalam kegiatan positif. Ada yang segera menuju halaqah (kumpulan) tahfidz guna menyetor hafalan Al-Qur'annya. Ada yang membuka mushhaf atau buku saku mutunnya dan mulai menghafal sendiri. Ada pula yang membuka kitab untuk dibaca atau dimuraja'ah. Yang jelas, masih jarang orang yang langsung membuka hpnya karena zaman itu bukan zaman hp canggih memasyarakat.

Antrian makan pun juga tidak jarang saya dapati mahasiswa yang menghafal atau mengulang pelajaran, hafalan Al-Qur'an, hafalan Hadits, ataun pun mutun. Begitu pula diskusi ilmiah, kadang terlihat dilakukan dua sampai tiga orang di sepanjang jalur antrian.

Di dalam bis yang mengantar ke Masjid Nabawi selepas shalat ashar hingga menujut pintu masuk masjid, saya dapati masih banyak yang 'komat-kamit' dengan hafalannya atau yang tertunduk khusyu' menatap isi kitab yang ada di tangannya. Momen seperti itu masih mudah didapati walau tidak jarang pula yang lebih memilih obrolan dengan teman disampingnya.

Selama di Masjid Nabawi, sebagian mereka bergegas menuju pusat-pusat setoran hafalan Al-Qur'an maupun hafalan mutun yang disediakan oleh Pengurus Masjid Nabawi. Bila shalat maghrib selesai, kajian-kajian ulama yang tersebar di beberapa titik masjid menjadi tujuan sebagian penuntut ilmu tersebut. Bahkan selepas shalat isya sekalipun masih ada yang tetap bertahan di masjid guna baca kitab atau duduk kembali di majelis ilmu yang diadakan selepas isya.

Selesai waktu makan malam, para penuntut ilmu pun kembali memanfaatkan waktu yang ada untuk baca kitab atau muraja'ah hingga waktu tidurnya tiba.

Ditambah lagi, jika ada daurah-daurah ilmiyah yang biasanya sepekan atau dua pekan maka mereka pun juga mengikutinya guna menambah capaian keilmuan mereka.

Begitu seterusnya hari ke hari rutinitas para penuntut ilmu yang saya lihat dan dapati waktu itu. Hampir sebagian mahasiswa tersebut seperti itu walau bukan seluruhnya atau sebagian besarnya. Dan orang-orang di sekitar saya memang seperti itu adanya. Adapun selain yang saya jumpai maka saya tidak bisa memberikan keterangan tentang mereka karena saya tidak mengetahui rutinitas mereka yang di luar penglihatan saya.

Seperti itulah kiranya rutinitas sebagian mahasiswa yang tidak lain adalah para penuntut ilmu yang bersungguh-sungguh tiap harinya. Masjid, ruang kelas, perpustakaan, asrama, dan kantin, itu adalah alur rutinitas mereka berjalan. Rutinitas yang akan berbuah pahala yang agung jika diniatkan murni mencari ridha Allah. Sungguh indah bukan!?

Mudah-mudahan Allah menguatkan kaki-kaki kita untuk tetap menapaki jalan yang mulia ini, jalan para penuntut ilmu syar'i. Dan semoga Allah Yang Maha Pengampun mengampuni kekurangan dan kelalaikan kita semua. Amin.

Demikian dan mudah-mudahan bermanfaat. Wassalam.

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram