Kisah Kelas Malam Di Sudut Kota Madinah

Saya ingin sekali bisa baca buku dan tulis tulisan arab ustadz walau saya cukup lancar untuk sekedar bicara bahasa arab ‘amiyah (tidak baku atau pasaran)”, ungkap seorang pria paruh baya berkebangsaan Prancis yang mukim di Madinah untuk bekerja ketika saya tanya alasannya mau duduk di kelas malam ta’lim bahasa arab.

Di kelas yang sama, ada hal menarik lain yang terjadi. Saya mulai memanggil nama-nama yang ada di daftar absensi kelas. “Fulan bin fulan”, sebut saya mengabsen. “Hadir ya ustadz”, jawab pemilik nama yang baru berusia 15 tahun berwajah khas India tersebut.

Kemudian saya melanjutkan, “Fulan bin fulan”, panggil saya, tetapi tidak ada suara yang menyahut. Saya panggil kembali nama tadi namun yang bersuara adalah anak 15 tahun tadi, “Dia sedang di toilet ustadz, sebentar lagi datang ke kelas, dia adalah bapak saya”, terangnya meyakinkan.

Saya hanya bergumam dalam hati, “MasyaAllah, di satu kelas seorang anak dan bapaknya duduk bersama untuk sama-sama belajar bahasa arab dan tidak menyia-nyiakan kesempatan baik ini selama mereka tinggal di Kota Madinah”.

Ada lagi seorang yang sudah berumur di kelas tersebut. Saya taksir umurnya sekitar 60 tahunan. Warna putih sudah menyelimuti seluruh rambut kepala dan jenggotnya, kemana-mana selalu menggunakan tongkat, bahkan shalat pun terpaksa memakai kursi. Namun kakek yang berasal dari Pakistan ini selalu semangat dan berusaha duduk di bangku terdepan untuk menyimak pelajaran.

“Ustadz, jangan cepat-cepat menyampaikan pelajaran agar saya bisa mengikuti walau tidak sepenuhnya saya bisa ikuti karena saya sudah tidak seperti anak-anak muda ini”, pintanya dengan mimik wajah serius kepada saya ketika pelajaran tengah berlangsung.

Ada pula sepasang pemuda Turki kakak-beradik yang sama-sama berada di kelas yang sama. Dan setiap saya absen, jika saya sudah mendengar si kakak menjawab “hadir” maka bisa dipastikan adiknya pun juga turut hadir disampingnya.


Bahkan ada salah satu peserta yang menyampaikan tentang latarbelakang dirinya kepada saya secara empat mata di sela-sela waktu istirahat. Dia menerangkan bahwa dirinya adalah orang yang sudah pernah menimba ilmu agama bertahun-tahun dari Syaikh Ihsan Ilahi Dzahir rahimahullah, ulama kenamaan di tempat asalnya sana. Bahkan dia sendiri sudah sering diminta menyampaikan khutbah dan ceramah agama di daerah asalnya tersebut.

“Saya memiliki sejumlah ilmu seputar agama ini, bahkan saya hafal sebagian besar Al-Qur’an dan beberapa potong hadits Nabi”, jelas peserta berjenggot lebat yang tampaknya berumur 40 tahunan ini kepada saya.

Dia yang sangat lancar berbicara bahasa arab ‘amiyah ini melanjutkan, “Tetapi ada satu hal besar yang mengganjal di hati saya sampai sekarang, saya belum menguasai bahasa arab fushah (baku) secara lisan maupun tulisan. Saya ingin bisa bicara dan menulis arab, serta membaca langsung buku-buku ulama yang berbahasa arab ustadz”, sesalnya sembari menunjukkan tekadnya untuk memulai belajar di usianya yang sudah tidak muda lagi.

Di ruang guru, saya sempat bertanya kepada kawan saya yang sama-sama mengajar di kelas yang saya ajar. Dia sedang menempuh program doktoral jurusan ushul fiqh di Universitas Islam Madinah. Saya tanyakan tentang seorang peserta berumur 50 tahunan dan berwajah asia yang sering sekali mendapati kesulitan.

“Fulan itu memang lemah sekali. Disamping tidak bisa sama sekali bahasa arab ‘amiyah, dia juga tidak bisa bahasa inggris sehingga pengajar yang lain kesulitan untuk memahamkannya”, jawab kawan saya yang memang berasal dari negara yang sama dengan peserta yang saya tanyakan barusan, Filiphina.

Dia melanjutkan, “Biarkan saja dia ikut pelajaran dan jangan terlalu fokus menjelaskan pelajaran berulang-ulang kepadanya, nanti kamu malah tidak bisa menyelesaikan mata pelajaran yang kamu ampu semester ini”.

Terakhir, kawan yang lebih dahulu dari saya dalam mengajar di tempat itu berpesan, “Sejak awal, sebagian peserta memang sadar bahwa mereka tidak akan bisa melanjutkan ke kelas berikutnya karena mereka mendapati kesulitan mengikuti pelajaran di kelas satu sehingga sebagian memilih tinggal kelas atau berhenti. Makanya penurunan jumlah peserta di kelas 2 sangat drastis dibanding dengan jumlah peserta di kelas 1, bisa mencapai separuhnya”.

Saya diam sejenak dan hanya melemparkan senyum kepada kawan saya tadi. Di dalam pikiran saya, sepertinya saya belum rela untuk membiarkan mereka yang kesulitan mengikuti pelajaran setelah pelajaran diulang untuk kedua atau ketiga kalinya.

Menurut saya, setidaknya mereka bisa menangkap apa yang saya sampaikan walau tidak sempurna, sepertiganya atau seperempatnya saja sudah bagus. Minimal ada yang mereka bisa bawa pulang dari tempat ini setiap malamnya. Menghargai kesungguhan dan kehadiran mereka di tempat belajar bahasa arab inilah yang menghalangi saya untuk mengabaikan mereka.

Sebagian besar mereka yang selalu menemui kesulitan dalam menerima pelajaran bahasa arab adalah mereka yang bisa jadi datang ke kelas dalam kondisi lelah setelah bekerja seharian atau mereka yang mulai dimakan ‘usia’ sehingga pemahaman, pendengaran, dan penglihatan, tidaklah sekuat dan setajam ketika masih muda; oleh karena itu, biasanya saya berusaha mengulang materi yang disampaikan dua hingga tiga kali untuk mereka ini.

Adapun sebagian yang lain maka mereka sangat mudah menangkap pelajaran. Bahkan mereka sering melontarkan sejumlah pertanyaan yang mendetail atau menjurus kepada materi yang rumit; menyikapi pertanyaan-pertanyaan mereka, biasanya saya menolak untuk menjawabnya ketika pelajaran tengah berlangsung. Biasanya saya mempersilahkan mereka bertanya setelah pelajaran usai agar tidak membuat bingung sebagian peserta yang susah menangkapn pelajaran.

•••

Itulah sejumlah hal menarik yang saya sempat temui di kelas malam ta’lim bahasa arab yang diadakan dan difasilitasi oleh pihak Universitas Islam Madinah, tepatnya Biro Khidmatul Mujatama’ (pelayanan masyarakat) & Ta’lim Mustamir melalui Divisi Ta’lim Bahasa Arab Untuk Orang-Orang Selain Arab.

Sebuah terobosan dari biro yang memang dibentuk oleh pihak universitas untuk fokus di bidang layanan kemasyarakatan. Hal ini menarik minat orang-orang non-saudi dan non-arab yang sedang mukim di Kota Madinah. Program ini sudah berjalan cukup lama tetapi belum tersebar luas di kalangan WNI yang tinggal disini.

Pembelajaran bahasa arab di program ini layaknya pembelajaran formal di Universitas Islam Madinah. Ada absensi kehadiran, ada buku-buku pelajaran, ada ujian untuk menentukan naik kelas atau tidak, dan tentunya ada ijazah yang diberikan bagi siapa saja yang mampu menyelesaikan program ini.

Perbedaannya ada pada waktu, durasi, dan pesertanya. Waktunya di malam hari sehingga tidak menghalangi mereka yang kerja di pagi hari dan durasinya pun tidak lama, yaitu sekitar 2 jam. Adapun pesertanya, yang dibolehkan mengikuti program ini adalah setiap orang non-saudi yang sedang mukim di Madinah dan tidak bisa berbahasa arab.

Program ini berlangsung selama 2 tahun dalam 4 semester dengan 4 tingkatan kelas. Pengajar bahasa arab di program ini adalah mahasiswa program pasca sarjana (S3) dari sejumlah negara dan jurusan.

Jadi, jika Anda sedang mukim di Kota Madinah dan memiliki waktu luang di malam hari maka jangan sia-siakan kesempatan belajar bahasa arab tanpa dipungut biaya sedikitpun!

Oh iya, Anda bisa melihat beberapa foto tentang kelas malam ta’lim bahasa arab ini beserta informasi pendaftarannya di postingan berikut:


Demikian sekelumit kisah kelas malam di sudut Kota Madinah kali ini. Semoga bermanfaat dan melecut semangat kita untuk tidak pernah menyerah untuk belajar bahasa arab walau usia sudah tidak lagi muda.

•••



Kota Madinah, 20 Shafar 1439 H
Disusun oleh Hamba Allah yang selalu butuh taufiq dan ampunNya:

Syadam Husein Abdullah Al Katiri

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram