Satu Senyuman Yang Dapat Membekukan Semua Kesedihan - 1


Iya, mari tersenyum pada kehidupan ini karena hakikat diri kita adalah hamba-hamba Allah. Kita ini para makhluk yang diciptakanNya, berjalan di atas suratan takdirNya, dan segala urusan kita diatur dengan cermat olehNya. Bahkan, segala anugerah yang kita miliki berasal dariNya dan terkadang Dia menguji kita dengan mencabutnya atau menguranginya.

Manakala kita kurang mengenal Sang Pencipta tersebut maka kekhawatiran, kesedihan, dan kegundahan akan semakin sering menghampiri pikiran dan hati kita. Baik itu berupa kekhawatiran terhadap masa depan, kesedihan atas masa lalu, maupun kegundahan yang bergelayut menghantui urusan-urusan kita di masa sekarang.

Sebaliknya, semakin mengenal Allah, mengenal keindahan Nama-Nama dan pesona Sifat-SifatNya, maka ketenangan pikiran dan ketentraman hati akan semakin sering mengisi hari-hari kita selama mengarungi kehidupan dunia ini. Iya, karena kita adalah hamba-hambaNya, Tuhan yang Maha Mampu, Maha Berkuasa, dan Maha Pengasih kepada seluruh makhluk ciptaanNya; tanpa terkecuali! 

Pembaca Alukatsir.Com yang dikasihi Allah, di kesempatan ini saya ingin mengangkat bahasan tentang manfaat yang bisa diraih ketika seseorang betul-betul sadar akan Rububiyah Allah Azza wa Jalla, yaitu keyakinan kuat bahwa Allah itu Pencipta, Pemberi rezeki, Pengatur seluruh urusan, Pemilik alam beserta isinya, dan lain sebagainya; yang masih jarang dikupas dengan lebih rinci dan tidak sedikit yang kurang memahaminya.

Padahal, bahasan seputar hal ini sangat menarik dan penting untuk dipelajari betul-betul karena akan membuat seorang hamba menjadi pribadi yang tegar, berani, selalu tenang, dan tidak mudah sedih atau khawatir terhadap setiap problematika hidupnya; seberat dan sesulit apapun masalah yang dihadapinya.

•••
Tetapi sebelum menerangkan kepada Para Pembaca sekalian beberapa faedah terkait Rububiyah Allah, saya ingin menyebutkan 2 poin penting sebagai pengantar memahami Rububiyah Allah Azza wa Jalla:

Poin Pertama:
Kata Rububiyah diambil dari kata 'Rabb'. Dan kata Rabb sendiri secara etimologi memiliki sejumlah makna, terang Ibnu Mandzur di Lisanul Arab (1/399), diantaranya: Al-Malik (yang memiliki), Al-Mudabbir (yang mengatur), Al-Murabbi (yang memelihara), Al-Mun'im (yang mencurahkan nikmat), dan seterusnya.

Adapun jika dihubungkan dengan Nama-Nama Allah maka makna dari Nama Rabb adalah Tuhan yang memiliki penciptaan, kepemilikan, dan perintah; yang kesemuanya itu bersifat mutlak. Hal yang tentu saja tidak dimiliki oleh selain Allah Azza wa Jalla.

Sebagai contoh, kepemilikan manusia terhadap hartanya itu tidaklah mutlak. Artinya harta tersebut tidak akan berada di genggamannya selamanya; ia bisa saja rusak, berkurang, hilang, berpindah tangan karena beberapa hal seperti bangkrut atau pemiliknya meninggal dunia. Bahkan atas tubuhnya sendiripun, manusia tidak memilikinya sepenuhnya. Tubuh tersebut bisa saja berkurang fungsinya atau terserang penyakit dan lain sebagainya dimana itu semua diluar keinginannya.

Berbeda dengan kepemilikan Allah Sang Al- Malik, kepemilikanNya atas segala hal di bumi hingga di langit bersifat mutlak. Tidak akan berpindah sama sekali atau hilang dariNya. Allah punya kepemilikan penuh atas itu semua, termasuk atas diri kita, Allah berhak mengatur dan menentukan apa yang diinginkanNya terhadap milikNya tersebut; semua yang terjadi pada milik Allah sesuai dengan kehendak dan hikmah dariNya Yang Maha Menguasai (Al-Malik) lagi Maha Bijaksana (Al-Hakim).

Allah Azza wa Jalla menegaskan:

يولج الليل في النهار ويولج النهار في الليل وسخر الشمس والقمر كل يجري لأجل مسمى ذلكم الله ربكم له الملك

"Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya-lah kerajaan." [QS. Fathir: 13]

Allah kembali menekankan hal ini di surat lain:

الله الذي خلقكم ثم رزقكم ثم يميتكم ثم يحييكم، هل من شركائكم من يفعل من ذلكم من شيء، سبحانه وتعالى عما يشركون

"Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Maha Sucilah Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan." [QS. Ar-Rum: 40]   

Jadi, maksud dari mentauhidkan Allah dalam hal-hal yang berkaitan dengan RububiyahNya (Tauhid Rububiyah) yaitu pengakuan yang betul-betul mantap bahwa Allah satu-satunya Rabb segala sesuatu dan Pemiliknya, meyakini seyakin-yakinnya bahwa Dia adalah Pencipta alam semesta, Yang Mampu Menghidupkan dan Mematikan, Yang Mencurahkan banyak rezeki, tidak ada satupun sekutu dalam kekuasaanNya tersebut. [Lihat: Taisir Al-Aziz Al-Hamid karya Sulaiman bin Abdullah (hal. 33-34)]

Poin Kedua:
Tauhid Rububiyah yang seorang hamba yakini: sangatlah penting dan prinsipiil, bahkan keimanannya tidak dianggap sah manakala ia tidak meyakini bagian dari tauhid ini. Pentingnya tauhid Rububiyah ini terlihat dari 2 sisi: sisi pertama berkaitan dengan kebutuhan hamba itu sendiri, sisi kedua berkaitan dengan hak Allah atas hal tersebut.

Sisi Pertama, kita sadari bahwa hajat manusia kepada Rabbnya tidak akan pernah habis. Ia selalu membutuhkan pertolonganNya untuk bisa mewujudkan keinginannya yang banyak ragam dan bentuknya tersebut. Ia tidak mungkin bisa lepas dari Rabbnya dalam semua kondisinya, walau hanya sesaat saja; makanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sering berdoa dengan doa yang berisi pengakuan sekaligus permintaan agar Allah tidak membiarkan beliau untuk bersandar pada diri sendiri walau untuk sekejap mata:

"اللهم لا تكلني إلى نفسي طرفة عين ولا أقلّ من ذلك"

"Ya Allah, janganlah Engkau biarkan aku bertumpu pada diriku sendiri (tanpaMu) walau hanya sekejap mata atau kurang dari itu." [HR. Abu Daud (no. 5090), Syaikh Albani menilai hadits ini hasan]

Setiap hamba itu sangat membutuhkan Rabbnya, dimana kebutuhannya tersebut melebihi kebutuhannya terhadap makan dan minum. Allah Ta'ala mengingatkan:

يأيها الناس أنتم الفقراء إلى الله، والله هو الغني الحميد

"Hai manusia, kamulah yang butuh kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji." [QS. Fathir: 15]

Masih belum yakin bahwa kita sangat butuh kepada Allah!? Berikut ini ada 7 fakta yang menunjukkan hal tersebut:

  1. Sifat dasar manusia membuktikan bahwa dirinya tidak sanggup untuk bertumpu pada diri sendiri, ia pasti -cepat atau lambat- akan tersadar bahwa ia membutuhkan Rabbnya untuk mengadu keluhkesah dan meminta pertolongan Rabbnya untuk mewujudkan keinginannya; jika Allah tidak berkehendak dan menolongnya maka adakah yang sanggup melakukannya selain Allah di bumi dan langitNya ini!?
  2. Manusia sangat memerlukan hidayah dan taufiq (bimbingan), sedangkan yang mampu memberikannya hanya Allah saja; jika bukan Allah yang memberi hidayah dan taufiq tersebut, lantas siapa yang sanggup memberikannya di muka bumi Allah ini?

Allah menegaskan hal ini:

أليس الله بكاف عبده، ويخوّفونك بالذين من دونه، ومن يضلل الله فما له من هاد. ومن يهد الله فما له من مضلّ، أليس الله بعزيز ذي انتقام

"Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hambaNya. Dan mereka menakut-nakuti kamu dengan (sembahan-sembahan) selain Allah? Dan siapa yang disesatkan Allah maka tidak seorangpun pemberi petunjuk baginya.
Dan barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorangpun yang dapat menyesatkannya. Bukankah Allah Maha Perkasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) mengazab?" [QS. Az-Zumar: 36-37]
  1. Allah-lah yang menciptakan seseorang dari tidak ada menjadi ada di muka bumi ini. Dan tidak mungkin ada yang mampu melakukan hal seperti itu selain Allah; jika memang demikian maka sangat tidak mungkin seorang makhluk dapat berlepas dari Penciptanya kemudian bertumpu pada diri sendiri.
  2. Seorang hamba tidak bisa mendatangkan manfaat sendirian, tanpa Allah Ta'ala. Allah menyuruh RasulNya:

قل لا أملك لنفسي نفعا ولا ضرا إلا ما شاء الله ولو كنت أعلم الغيب لاستكثرت من الخير وما مسني السوء إن أنا إلا نذير وبشير لقوم يؤمنون 

"Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman." [QS. Al-A'raf: 189]

Jika manusia sekaliber Rasulullah saja disuruh untuk menyatakan hal tersebut maka orang yang lebih rendah dari beliau tentu lebih ditekankan untuk menyadari hal itu.
  1. Seorang hamba jika telah menyadari mana yang bermanfaat dan mana yang membahayakannya, mau tidak mau ia pasti membutuhkan Rabb yang membuatnya bisa mewujudkan hal tersebut; jika tidak, lantas siapa yang mampu membantunya!?
  2. Seorang hamba tidak dapat lepas dari arahan Rabbnya untuk melakukan hal berguna bagi dirinya, ia pun butuh bimbingan Rabbnya untuk beramal shalih, dan kemudahan dari Rabbnya untuk menyelesaikan apa yang telah dimulainya tersebut; jika Allah tidak menghendaki untuk mengarahkan dan membimbingnya maka ia tidak akan sanggup memulai dan menyelesaikan kerjaan atau amalannya.
  3. Tatkala Allah Azza wa Jalla telah bimbing untuk mengetahui yang baik -duniawi maupun ukhrawi-, mudahkan untuk melaksanakannya hingga selesai, seorang hamba tetap saja butuh kepada Allah agar dirinya bisa terus berada dalam kondisi seperti itu hingga akhir hayatnya; tidak ada yang berani mengklaim bahwa dirinya akan terus berada dalam ketaatan hingga wafat. Ini bukti bahwa kita terus menerus butuh kepada Allah agar bisa istiqamah jika sudah berjalan di jalur ketaatan.
Hati manusia yang lemah dan mudah berubah-rubah itu berada di tangan Allah dan Dia dengan mudah membolak-balikan hati hambaNya seesuai kehendakNya. Makanya, diantara doa yang Rasulullah shallallahu alaihih wa sallam sering panjatkan:

"Duhai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku untuk terus berada di atas agamaMu". [HR. Tirmidzi (no. 2140), Syaikh Albani menilai hadits ini hasan]

Pembaca Alukatsir.Com yang dimuliakan Allah, masih banyak lagi bukti yang mengindikasikan kebutuhan manusia terhadap Rabbnya. Saya cukup dengan menyebutkan 7 saja pada tulisan kali ini.

Sisi Kedua, mentauhidkan Allah dalam perkara RububiyahNya adalah hak dan keistimewaanNya. Karena hanya Dia-lah yang mampu menciptakan, mencurahkan rezeki setiap makhluk, mengatur urusan setiap makhluk, menghidupkan, mematikan, berkuasa, memiliki perintah dan kehendak mutlak, dan lain sebagainya, sudah sepantasnya seorang hamba yang notabenenya makhluk ciptaanNya mengakui dan meyakini hal-hal tadi hanya untuk Allah.

Oleh karena itu, seorang hamba tidak akan membangkang perintah-perintah Rabbnya kecuali ia lupa atau tidak sadar terhadap hak-hak Allah dalam RububiyahNya. Artinya semakin banyak bermaksiat dan meninggalkan ketaatan, hamba tersebut belum mengenal betul Rabbnya dan hak-hakNya pada dirinya selaku makhluk ciptaanNya. 

bersambung…

•••

Sumber:
Disadur dan disarikan oleh situs Alukatsir.Com dari 3 referensi berikut:
Al-Lathaif An-Nadiyah fi Bayan Tauhid Ar-Rububiyah karya Prof. Dr. Ahmad bin Abdullah Al-Ghunaiman
Tauhid Ar-Rububiyah karya Dr. Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd
Ar-Rububiyah karya Prof. Dr. Muhammad Abu Saif Al-Juhani

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram