Pesona Tauhid Yang Kita Belum Sadari Sepenuhnya

Keyakinan seseorang bahwa Allah-lah satu-satunya Pencipta, Pemilik, dan Pengatur alam semesta, memiliki sejumlah konsekuensi yang ia harus yakini pula. Ketika Anda percaya penuh kepada Allah yang menciptakan, menguasai, dan mengatur langit dan bumi beserta isinya, termasuk diri dan urusan Anda, maka saat itu pula Anda harus meyakini konsekuensinya sebagai implementasi dari beriman kepada Allah Azza wa Jalla dan mengesakanNya.

Beberapa hal yang menjadi konsekuensi hal diatas sekaligus indikasi bahwa kepercayaan Anda berada di jalur yang tepat sebagai berikut:

1. Meyakini keesaan Allah dalam perkara Dzat, Nama-nama, dan Sifat-sifatNya. Anda mesti percaya juga bahwa Allah itu tidak berasal dari ketiadaan dan tidak akan pernah tiada; Hal ini sangat berbeda dengan makhlukNya yang berasal dari ketiadaan menjadi ada kemudian mengarah kepada ketiadaan lagi!

Dialah (Allah) Al-Awwal yang tidak didahului sesuatu apapun sebelumnya. Dialah Al-Akhir yang tidak bertahan sesuatu apapun setelahnya. Dialah Adz-Dzahir yang tidak ada satupun diatasnya. Dan Dialah Al-Bathin yang tidak ada satupun dibawahnya.

Manakala kita mulai percaya bahwa Allah adalah satu-satunya tuhan yang menciptakan, menguasai, dan mengatur alam ini, maka disadari atau tidak, kita seharusnya percaya pula bahwa tidak mungkin ada satupun makhluk yang menyamai atau mendekati Allah dalam keesaan Dzat, Nama, dan SifatNya. Juga, tidak mungkin pula Allah itu sederajat dengan seorangpun makhlukNya; tidak sama sekali.

2. Konsekuensi yang paling kuat dari kepercayaan Anda bahwa Allah-lah satu-satunya pencipta, penguasa, dan pengatur semesta ialah Anda menjadikan segala bentuk ubudiyah (baca: menghambakan dan menghinakan diri) Anda hanya kepada Allah semata sesuai dengan tatacara ubudiyah (syariat) yang diajarkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selaku utusanNya.

Allah Ta'ala menegaskan hal ini di 2 ayat berikut:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ * الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

"Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.
Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui." [QS. Al-Baqarah: 21-22]


3. Meyakini pula bahwa tidak ada satupun yang bergerak atau diam melainkan dengan izin dan perintah Allah sebagai konsekuensi dari keyakinan Anda tentang Allah selaku penguasa dan pengatur semesta. Dialah Allah yang telah menetapkan takdir semua makhluk jauh sebelum mereka diciptakanNya; Dia telah mengetahui kesemuanya dan detailnya, menuliskannya, menghendaki keberadaan dan terjadinya, serta menciptkannya.
Allah Ta'ala mengingatkan hal ini di sebuah ayat yang berbunyi:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)." [QS. Al-An'am: 59]

4. Juga, mempercayai bahwa tidak ada satupun manusia yang berhak menetapkan syariat bersama Allah, tidak ada makhluk yang memiliki keistimewaan ini sekalipun ia adalah seorang pemimpin atau ulama ataupun ahli ibadah! Menetapkan sesuatu halal atau haram adalah hak prerogatif Allah semata.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ وَلَوْلَا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

"Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih." [QS. Asy-Syura: 21]

SUMBER:
Disadur oleh situs alukatsir.com dari kitab Dalailur Rububiyah karya Dr. Abu Zaid bin Muhammad Makki (halm. 116-117)

•••

KESIMPULAN:
Meyakini keesaan Allah dalam perkara rububiyahNya (menciptakan, memiliki, dan mengatur semesta), jika kita pahami dengan benar maka akan mengantarkan kita kepada keyakinan tentang keesaan Allah dalam perkara Dzat, Nama, SifatNya, serta akan melahirkan sikap ubudiyah total yang hanya ditujukan kepada Allah semata.

Kita tidak akan mencintai seorangpun makhluk melebihi cinta kita kepada Allah. Tidak akan berharap kepada seorangpun melebihi pengharapan kita pada Allah. Tidak pula takut dan tunduk pada seorangpun melebihi ketakutan dan ketundukan kita pada Allah; karena kita meyakini tidak ada yang melebihi Allah selaku Pencipta, Pemilik, dan Pengatur semesta beserta isinya, siapa dan bagaimanapun 'kehebatan dzahir' makhluk tersebut.

Dengan kata lain, keyakinan semacam inilah yang seharusnya kita sadari setelah memahami siapa Pencipta kita sehingga kita tidak akan rela jika amalan hati, lisan, dan badan, kita serahkan sebagiannya atau sepenuhnya pada selainNya.
Demikian. Semoga bermanfaat untuk diri dan pembaca sekalian. Semoga membuat kita semakin mengenal Allah Rabb semesta alam, semakin mempertebal keimanan kita kepadaNya, serta semakin mengencangkan ikatan dan ketergantungan kita padaNya; sekarang dan seterusnya. Amin.


Kota Nabi, 5 Muharram 1440 H
Syadam Husein Al Katiri 

•••

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram