Penyejuk Jiwa Ketika Cobaan Dan Musibah Melanda

Bismillah. Pembaca Alukatsir.com yang Allah muliakan, berikut ini adalah sebuah pesan panjang yang dikirimkan oleh seorang Syaikh dari Kota Madinah, KSA, kepada salah seorang kawan beliau yang berada di Indonesia dan sedang tertimpa musibah berupa kehilangan orang terdekat yang sangat disayanginya.

Naskah asli dari pesan ini berbahasa arab. Syaikh ini, Abu Yusuf, meminta saya untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa indonesia sekira kawan beliau yang tidak menguasai bahasa arab bisa mengerti isi pesan beliau. Saya lihat pesan ini sarat akan untaian kata yang menyentuh dan dapat mengurangi kesedihan orang yang tertimpa musibah dan cobaan hidup.

Saya posting terjemahan pesan ini di Alukatsir.com karena sejatinya apa yang beliau tulis disitu tidak lain ialah nukilan-nukilan dari ucapan para ulama terdahulu (baca: Salaf rahimahumullah) yang mengandung banyak hikmah dan faedah. Harapan saya, semoga untaian kata ini dapat jadi penyejuk jiwa dan pelipur lara bagi siapa saja yang mampir membaca situs ini dan tengah diuji oleh Allah dengan beragam cobaan hidup, baik kesehatan, kekurangan, kehilangan, dan lain sebagainya. Berikut terjemahan pesannya:

"Sesungguhnya kepunyaan Allah-lah apa yang diambilNya dan apa yang dianugerahkanNya, segala sesuatu di sisiNya sesuai batas waktu yang telah ditetapkan. Hendaklah Engkau bersabar dan mengharap pahala. Bermohonlah kepada Allah agar mencurahkan ampunan dan rahmat untuk Ayahmu, serta memberikanmu kesabaran dan pahala.

Berikut ini sejumlah kabar gembira bagi orang-orang yang tegar, pelipur lara bagi orang-orang yang sabar; kabar gembira di momen sedih dan berkabung:

Kabar gembira pertama, kedua, dan ketiga: (perolehan) keselamatan, rahmat, dan hidayah, yang berasal dari Allah.

Allah Ta’ala berfirman mengenai ciri orang-orang mukmin yang bersabar atas cobaan dan menunjukkan sikap ridha terhadap pahitnya qadha (ketetapan): "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." [QS. Al Baqarah: 155-157]

Di buku Ighatsatul Lahafan, Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan (sebuah ucapan) dari Umar bin Khattab radhiyallahu anhu: "Sebaik-baik keadilan dan sebaik-baik (bingkisan) kejutan" yaitu berupa hidayah yang dengannya mereka berhasil lepas dari kesesatan, dengan rahmat mereka berhasil selamat dari kepahitan dan siksaan, dan dengan shalat mereka berhasil mencapai kedudukan mulia dan kedekatan.

Ibnu Sa'di rahimahullah berkata: "Mereka yang disifati sebagai orang yang sabar yang tertera (di ayat) [untuk mereka ialah shalawat-shalawat dari Rabb mereka]: maksudnya pujian dan penyebutan kondisi mereka. [dan Rahmat] yang besar, dan diantara bentuk rahmatNya untuk mereka adalah Dia membimbing mereka untuk sabar sehingga bisa meraih pahala yang sempurna. [dan mereka merupakan orang-orang yang diberi petunjuk] sehingga dapat mengenali kebenaran dimana dalam hal ini berarti mereka menyadari bahwa mereka adalah milik Allah, kepadaNya mereka akan kembali. Sebagaimana mereka pun mampu menerapkan kesabaran mereka untuk Allah."

Kabar gembira keempat:
Di shahihain, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Tidak ada seorang muslimpun yang tertimpa musibah lantas ia berkata "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, duhai Allah limpahkan pahala di dalam musibahku ini dan berikan ganti lebih baik lagi darinya", melainkan Allah akan melimpahkan pahala untuknya atas musibahnya dan memberi ganti yang lebih baik".

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata di buku At Tibbun Nabawi:
Penjelasan tentang petunjuk Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam menghadapi beratnya musibah dan kesedihan yang meliputinya. Dan kalimat berikut ini termasuk obat bagi orang yang tertimpa musibah, yang sangat ampuh untuk sekarang dan seterusnya; karena mengandung dua hal penting jika seorang hamba betul-betul memahaminya maka akan berkurang kesedihannya:

Pertama, sesungguhnya diri seorang hamba, keluarganya, dan hartanya, milik Allah. Dia jadikan itu semua di sisi hambaNya sebagai ‘pinjaman’, jika Dia mengambilnya dari diri hamba tersebut maka itu bagaikan seseorang yang meminjamkan sesuatu kemudian mengambilnya kembali dari orang yang meminjam. Juga, dirinya pada dasarnya dikelilingi dua ketiadaan, ketiadaan sebelum dan ketiadaan sesudahnya. Apa yang dimiliki seorang hamba hanya sekedar kesenangan sesaat yang akan dikembalikan dalam waktu dekat. Dia pun juga bukan orang yang mewujudkan apa yang dimilikinya dari ketiadaan sehingga bisa mengklaim bahwa itu miliknya, tidak bisa memeliharanya terus menerus dari kerusakan setelah keberadaanya. Dirinya tidak punya andil disitu dan tidak pula memilikinya sepenuhnya.

Juga, dirinya hanya bisa menggunakannya laksana seorang budak yang diperintah dan dilarang, tidak sebagai pemilik sebenarnya. Oleh karena itu, dirinya tidak diperkenankan untuk bertindak (terhadap pinjaman itu) kecuali sebatas apa yang sesuai dengan keinginan pemilik aslinya.

Kedua, Tempat kembali setiap hamba adalah kepada Allah, Pemiliknya yang haq. Mau tidak mau ia akan meninggalkan dunia dan menghadap Rabbnya sendirian sebagaimana dirinya pertama kali diciptakan tanpa keluarga, harta, dan kerabat, ia kembali menghadap dengan amal kebaikan dan keburukan. Jika ini adalah titik bertolak dan titik berakhir seorang hamba maka tidak selayaknya ia terlalu gembira dengan keberadaan (pinjaman tersebut) dan tidak juga terlalu bersedih dengan ketiadaannya. Dengan pola pikir seperti ini, seseorang akan terobati dari kesedihannya.

Dan diantara penawar (kesedihan) juga, hendaknya ia mengingat dengan penuh keyakinan bahwa apa yang menimpanya tidak akan luput darinya dan apa yang luput darinya tidak akan menimpanya. Allah berfirman: "Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri."

Diantara penawarnya, hendaknya ia melihat kembali musibah yang menimpanya dan membandingkan apa yang disisakan Rabnya untuk dirinya yang semisal atau bahkan jauh lebih baik. Juga, disimpankan untuknya -jika ia sabar dan ridha- sesuatu yang lebih besar daripada musibah tersebut, berlipat ganda. Kalau (Allah) mau bisa saja menjadikannya (musibah itu) lebih besar ketimbang yang sudah ada.

Diantara penawarnya, hendaknya ia berusaha memadamkan panasnya musibah yang menimpa dengan kesejukan memperhatikan orang-orang yang tertimpa musibah juga. Ada pepatah arab “Lihatlah bahwa di setiap lembah ada Bani Sa'ad, tengoklah sedikit ke kanan, apa yang dilihatnya selain cobaan? kemudian tengoklah ke kiri, apa yang dilihatnya selain ratapan?”

Jika ia memperhatikan dunia ini maka dapat dipastikan dirinya akan lihat mereka juga sama-sama diuji, baik berupa kehilangan orang yang disayang atau tertimpa marabahaya. Sesungguhnya kepahitan-kepahitan dunia ini bagaikan mimpi sesaat atau bayangan semu yang akan menghilang; bila itu membuat tertawa sejenak maka akan membuat tangis cukup lama. bila membuat bahagia sehari maka akan membuat sedih cukup lama. bila membuat senang sebentar maka akan membuat pahit getir cukup lama.

Diantara penawarnya, hendaknya ia sadari bahwa ratapan berlebih tidak akan mengembalikan yang hilang, bahkan memperparahnya; karena pada dasarnya itu justru menambah perih.

Diantara penawarnya, hendaknya ia sadari bahwa ratapan berlebih juga akan membuat senang orang yang membenci dirinya dan setan, turut membuat sedih teman-temannya, mengundang murka Rabbnya, menghanguskan pahalanya, memperlemah kondisinya. Tetapi, manakala ia berusaha sabar dan mencari pahala maka ia berhasil memukul mundur setan, mengundang ridha Rabnya, turut menghapus kesedihan teman-temannya, ia-lah yang merangkul saudara-saudaranya dan menyampaikan takziyah sebelum mereka menyampaikan hal itu kepadanya. Inilah yang dinamakan ketegaran dan kesempurnaan yang penuh tanpa tempelengan pipi, robekan baju, ratapan kesengsaraan, maupun ketidakterimaan terhadap takdir.

Diantara penawarnya, hendaknya ia ketahui bahwa sikap bersabar dan mencari pahala (dari musibah) akan melahirkan kenikmatan dan kebahagiaan yang berlipat-lipat yang tidak akan tercapai kalau tidak bersabar. Cukup sekali sebagai buah kesabaran atas musibah ialah perolehan istana Hamd yang akan dibangunkan di dalam surga setelah untaian kata hamd pujian dan istirja yang terucap. Hendaknya ia menimbang musibah mana yang terbesar? musibah sekarang atau musibah kehilangan kesempatan mendapat sebuah istana di surga keabadian.

Diriwayatkan Tirmidzi, (Nabi bersabda): "Sampai-sampai banyak orang di Hari Kiamat berharap agar kulit-kulit mereka digergaji semasa di dunia setelah mereka lihat pahala luar biasa orang-orang yang sering ditimpa cobaan."

Sebagian Salaf berpesan: "Kalaulah bukan karena musibah dunia niscaya kita akan dapati kebangkrutan di Hari Kiamat."

Diantara penawarnya, hendaklah ia menumbuhkan di hatinya nilai pengharapan untuk diganti lebih baik oleh Allah, karena segala sesuatu itu dapat tergantikan kecuali Allah saja yang tidak tergantikan sebagaimana pepatah berbunyi: “Segala sesuatu jika engkau hilangkan maka akan ada gantinya, adapun Allah jika engkau lupakan maka tidak ada ganti yang sepadan denganNya.”

Diantara penawarnya, hendaklah ia sadari bahwa ganjaran musibahnya itu sesuai dengan kondisinya sendiri. Siapa saja yang menunjukkan sikap ridha maka baginya ridha pula (dari Allah). Dan siapa saja yang tidak terima maka baginya murka pula. Oleh sebab itu, pilihlah pilihan terbaik atau silahkan pilih yang terburuk karena hal tersebut bergantung pada dirimu sendiri bagaimana menyikapinya.

Bilamana Engkau sikapi dengan ketidakterimaan maka tentunya sikap itu akan dituangkan ke dalam catatan orang-orang yang binasa. Jika Engkau tunjukkan ratapan murka dan mengabaikan kewajiban atau menjerumuskan diri ke haram, keluhan berlebih, ketidaksabaran, maka itu pun juga akan tercatat pada catatan orang-orang yang tercela.

Bilamana Engkau menyikapinya dengan penuh kesabaran, ketegaran karena Allah, sikap syukur, banyak memuji Allah, sikap kecintaan padaNya, maka itu semua akan disematkan pada catatan orang-orang yang baik, ikhlas, dan ridha lagi bersyukur.

Di buku Musnad Imam Ahmad dan Sunan Tirmidzi, dari hadist Mahmud bin Labid yang disandarkan kepada Rasulullah: "Sesungguhnya Allah jika sudah cinta terhadap suatu kaum niscaya Dia akan menguji mereka. Barangsiapa ridha maka baginya keridhaanNya, dan barangsiapa murka tidak terima maka baginya kemurkaanNya".

Diantara penawarnya, hendaknya ia tahu bahwa betapapun ia bersedih dan meratap maka ia akan berhujung pada sikap menerima mau tidak mau, dan ini tidak berisi ganjaran atau pujian. Sebagian ahli hikmah berpesan: "Orang yang betul-betul sempurna pemikirannya akan bertindak di hari pertama musibahnya apa yang baru dilakukan oleh orang jahil setelah beberapa hari terkena musibah. Siapa yang tidak sabar dengan kesabaran orang-orang mulia maka ia laksana hewan ternak yang akhirnya menurut ketika digiring."

Di dalam sebuah hadits disebutkan: "Sesungguhnya sabar itu ketika pukulan pertama (musibah)". Asy'as bin Qais berkata: "Jika engkau bersabar dengan penuh keimanan dan pengharapan pahala (maka akan menuai hasilnya), jika tidak maka tidak ubahnya seperti keterpaksaan hewan ternak (kala digiring)".

Diantara penawarnya, hendaknya ia sadari bahwa obat paling manjur baginya adalah menurut kehendak Rabb dan Tuhannya dalam hal yang disukai dan diridhai olehNya. Kecintaan yang tulus itu hakikatnya berporos pada apa yang disukai oleh orang yang dicinta. Oleh karenanya, siapa saja yang mengklaim mencintai seseorang kemudian tidak menunjukkan sikap menuruti apa yang disukai oleh orang yang dicintainya maka sungguh ia telah menampakkan sendiri kedustaan.

Abu Darda radhiyallahu anhu berpesan: "Allah itu jika sudah menetapkan suatu ketetapan maka Dia senang apabila ketetapanNya itu juga diridhai". Imran bin Hushain pernah berkata ketika sakit: "Yang paling ku sukai adalah apa yang paling disukai olehNya (Allah)". Abul Aliyah juga berkata: "Obat penawar semacam ini tidak akan berguna kecuali terhadap orang yang betul-betul cinta karena tidak semua orang dapat berobat dengannya".

Diantara penawarnya, hendaknya ia pertimbangkan antara dua kenikmatan, mana yang paling bermanfaat dan lebih kekal? Kenikmatan mendapati musibah atau kenikmatan mendapat ganjaran pahala dari Allah. Jika yang paling kuat dari keduanya telah tampak baginya maka sewajarnya ia fokus untuk itu sembari memuji Allah. Jika sebaliknya, terlalu fokus dengan yang lebih rendah maka hendaknya ia mengingat bahwa musibah yang berkaitan dengan agama, hati, dan kematangan berpikir, lebih berat ketimbang musibah yang menimpa dirinya saat ini berkaitan dengan dunianya.

Diantara penawarnya, hendaknya ia merenungi bahwa yang menimpakannya musibah ini adalah (Rabb) yang maha bijak dan maha merahmati. Dan Allah tidaklah menimpakan musibah kepadanya untuk menghancurkannya atau menyiksanya, tetapi menimpakan musibah berupa kehilangan untuk menguji sejauh mana kesabaran, ridha, dan keimanannya. Sekira Dia mendengar rintihan dan sikap bersandar kepadaNya. Sekira Dia melihatnya mengetuk sungguh-sungguh pintuNya sambil berharap meraih perlindunganNya dalam kondisi hati yang retak di hadapanNya dan mengadukan berbagai keluh kesahnya padaNya.

Syaikh Abdulqadir berkata: "Hai anakku, sungguh suatu musibah itu tidak datang sekira kamu hancur, melainkan untuk menguji keimanan dan kesabaranmu. Hai anakku, takdir itu laksana binatang buas yang tidak memangsa hewan yang sudah mati."

Diantara penawarnya, hendaknya ia pahami bahwa kalau bukan lantaran cobaan dan musibah dunia maka seorang akan terkena beragam penyakit kesombongan, takjub diri, pongah, dan keras hati, yang justru mengakibatkan kebinasaannya di dunia dan akhirat. Maka, diantara bentuk kasih sayang Allah adalah menimpakan kepadanya berbagai cobaan terkadang sekira ia terjaga dari penyakit semacam tadi, memelihara kesehatan ubudiyahnya dari berbagai kotoran yang merusaknya; sungguh maha suci Rabb yang menunjukkan kasihNya melalui cobaan dan menguji dengan berbagai nikmatNya, sebagaimana pepatah berbunyi: "Bisa jadi Allah menguji dengan bala walau berat...terkadang Allah pun menguji sebagian orang dengan limpahan nikmat."

Kalau bukan karena Allah yang mengobati hamba-hambaNya dengan obat cobaan dan musibah niscaya mereka akan melampau batas dan berbuat semena-mena. Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba niscaya Dia akan turunkan beragam cobaan dan ujian sesuai kemampuan si hamba tadi sehingga ia bisa lepas dari penyakit-penyakit membinasakan; kemudian Allah bersihkan dari itu semua dan mendudukkannya di posisi termulia di dunia yaitu posisi penghambaan diri, dan posisi tertinggi di akhirat yaitu melihatNya dan dekat denganNya.

Diantara penawarnya, hendaknya ia sadar bahwa pahit getirnya dunia ini pada dasarnya adalah rasa manis akhirat, Allah membalikkannya seperti itu. Rasa manis dunia pada dasarnya adalah patih getirnya akhirat; sekira seorang dapat berpindah dari kepahitan yang sementara kepada kenikmatan yang kekal, itu tentu jauh lebih baik baginya ketimbang kondisi sebaliknya.

Jika hal ini belum juga dipahami, coba renungi ucapan Nabi berikut: "Surga itu dikelilingi beragam ketidaknyaman dan Neraka justru dikelilingi beragam kesenangan menipu."

Di momen seperti ini, orang-orang berbeda dalam memahaminya, akan tampak mana para pria sejati karena sebagian besar orang justru memprioritaskan kesenangan dunia yang sebentar ketimbang kesenangan akhirat yang kekal dan tidak mampu menahan getirnya cobaan sesaat untuk menggapai nikmat yang abadi, tidak pula mau sabar sebentar untuk kehinaaan sesaat menuju kemuliaan abadi, tidak pula cobaan sesaat untuk keselamatan abadi.

Yang demikian karena yang tampak di hadapannya itulah patokan, sedang yang tidak tampak menurutnya adalah abstrak, ditambah keimanan yang lemah dan syahwat yang lebih mengontrol; sehingga akan melahirkan dari itu semua sikap mengedepankan dunia dan mengabaikan akhirat. Dan ini adalah kondisi orang yang hanya melihat dzahir semua perkara dan bagian pertamanya saja. Adapun yang melihat jauh kedepan melangkahi dunia dan membersamai kesudahan yang baik tujuan mulia maka ia memiliki hasil berbeda.

Ajaklah dirimu menengok apa yang Allah janjikan dari beragam nikmat abadi, kebahagiaan yang tidak berkesudahan, dan kemenangan besar, untuk para hamba dekatNya dan ahli ketaatan. Dan ajaklah dirimu melirik kepada apa yang disiapkan untuk orang-orang yang malas dan membuang-buang kesempatan, mulai dari kehinaaan, siksaan, penyesalan yang tidak berhujung. Kemudian cobalah pilih mana yang paling baik untukmu! Setiap orang akan melakukan amalan yang sesuai dengan dirinya. Setiap orang akan berusaha menggapai apa yang sesuai dengan kadar dirinya dan yang terbaik bagi dirinya.

Janganlah Engkau terlalu lama ragu untuk mengambil obat ini karena kebutuhan yang mendesak untuk itu, baik bagi dokter maupun yang sakit. Akhir kata, dengan Allahlah taufik (tercapai).

Pembaca Alukatsir.com, demikianlah terjemahan dari pesan ini, semoga bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya dan merenungi kandungan dibaliknya. Wassalam...



Kota Madinah, 20 Rabiul Awwal 1440 H
Syadam Husein Abdullah Al Katiri



 

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram