Tidak Ada Kata Terlambat


Pekan lalu saya mengunjungi beberapa rekan mahasiswa dengan jenjang dan fakultas yang berbeda-beda, mulai dari mahasiswa pasca sarjana hingga mahasiswa yang duduk di semester pertama, mulai dari yang baru tiba hingga yang akan selesai.

Saya terlibat obrolan cukup panjang bersama beberapa dari mereka di kesempatan, waktu, dan tempat, yang berbeda pula. Topik obrolan kami pun juga beragam, baik itu seputar masalah pribadi non akademik maupun seputar masalah akademik seperti nilai IPK, dosen, kebijakan-kebijakan terkini di Jami’ah (UIM), dan lain sebagainya.

Diantara topik obrolan itu ada yang membuat saya sangat tertarik, yaitu sebagian rekan mahasiswa yang tersibukkan dengan kegiatan-kegiatan selain menimba ilmu dan menyebabkan mereka mengalami kendala dalam proses perkuliahan atau berbenturan dengan peraturan-peraturan kampus.

Saya yakin sebagian rekan mahasiswa tersebut punya alasan cukup logis di balik kesibukan mereka dalam hal yang tidak berkaitan dengan menuntut ilmu. Pasti, ada sebab atau masalah yang menyeret sebagian dari mereka ke kegiatan-kegiatan non ilmiah tersebut yang saya tidak ketahui dan pahami.

Karena sejatinya, hampir keseluruhan mahasiswa disini memiliki satu motivasi yang sama ketika menginjakkan kaki pertama kali di Kota Nabi, Madinah. Ingin meraup sebanyak mungkin ilmu yang terselip di setiap ruang kelas maupun majlis-majlis ulama di sejumlah masjid, itulah motivasi mereka ketika mendaftar dan menginjakkan kaki di kampus ini.

Disamping itu, ada motivasi lain yang tidak kalah penting, yaitu menyelasaikan kuliah dan proses menuntut ilmu agama disini tanpa menghadapi kendala atau masalah yang malah bisa mengakibatkan kepulangan ke tanah air tanpa hasil yang berarti.

Namun seiring waktu berjalan, ada saja godaan atau masalah yang mendistorsi motivasi awal tersebut sehingga kita jadi lupa akan hal itu. Akhirnya motivasi awal tadi mulailah terabaikan dan mengabur dari pandangan mata kita atau sebagian kita.

Biasanya, rasa penyesalan itu mulai menyeruak keluar manakala seseorang sudah berada di tahun terakhirnya disini. Dia akan merasakan kembali kehadiran motivasi awalnya kala mulai tinggal di kota ini. Dia akan tersadar bahwa waktu terus berlari kencang tanpa peduli apakah dirinya sudah berhasil mewujudkan impiannya atau tidak, tetiba dia sudah berada di depan pintu keluar kampus.

Dalam rihlah ilmiah di tempat jauh dari keluarga dan orang tua seperti ini, sikap saling mengingatkan antar sesama mahasiswa menjadi sangat berarti dan berguna. Hal itu tidak hanya menguatkan kita dalam mengingat dan menyibak motivasi awal yang mulai memudar, tetapi juga dapat menjadikan kita lebih baik, lebih bersemangat untuk mewujudkannya.

Oleh karena itu, walaupun keberadaan kita tinggal satu tahun lagi atau satu semester, atau pun hanya tersisa satu bulan lagi, maka mari kita sama-sama ingat bahwa kata terlambat atau terlanjur itu tidak ada di kamus hidup kita.

Jika kita tersibukkan dengan hal-hal selain menuntut ilmu selama bertahun-tahun, maka mari kita manfaatkan waktu yang tersisa dengan sebaik-baiknya untuk kembali kepada motivasi awal tersebut.

Bisa saja, Allah Al-‘Alim Al-Lathif melimpahkan berkah pada ilmu yang kita cari di detik-detik akhir ‘hidup’ kita di Madinah walau tidak banyak, manakala kita menunjukkan padaNya penyesalan sesungguhnya sekaligus keinginan kuat untuk kembali ke barisan para penuntut ilmu.

Bisa jadi ilmu sedikit yang diiringi dengan keberkahan dari Allah, menjadi pembuka pintu-pintu kebaikan lain untuk diri kita setibanya kita di tanah air nanti. Paling tidak, kita dapat memberi pencerahan untuk keluarga dan orang-orang terdekat kita seputar hukum-hukum agama yang mereka belum ketahui.

Demikian. Semoga bermanfaat dan menjadi pengingat bagi penulis dan pembaca sekalian. Semoga Allah mudahkan segala urusan kita semua. Amin.

Catatan hati tidak ada kata terlambat

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram