Perintah Pertama Di Al Quran Dan Tafsirannya Yang Mungkin Anda Ingin Ketahui Lebih Dalam

Di dalam Quran ada banyak sekali perintah Allah Ta’ala kepada hamba-hambaNya. Kita sebagai bagian dari hamba Allah tentunya juga wajib mentaati dan melaksanakan titah dari Pencipta dan Penguasa alam semesta tersebut.

Kandungan Al Quran sendiri terklasifikasikan secara garis besar menjadi dua: perintah dan kabar. Perintah untuk melaksanakan maupun menjauhi suatu ucapan atau perbuatan. Demikian halnya kabar, ia berupa kabar tentang sifat dan perbuatan Allah, kabar tentang janjiNya untuk hamba yang taat, ancamanNya untuk hamba yang membangkang, kabar tentang peristiwa sebelum masa Nabi Muhammad ﷺ , peristiwa di masa Beliau hingga beragam peristiwa yang akan datang semisal huru hara kiamat dan negri akhirat.
 
Pembaca Alukatsir.com yang Allah muliakan, kira-kira apa bentuk perintah pertama yang termaktub di Quran yang kita sering baca? Apakah perintah shalat? Puasa? Berakhlak baik terhadap sesama? Jawabnya tentu saja bukan.
 
Perintah pertama dari Allah Ta’ala ketika kita membuka Mushaf adalah perintah untuk menyembah dan menghambakan diri kepada Allah semata. Bahkan, di dalam perintah tersebut Allah mengingatkan kita semua tentang hakNya sebagai Tuhan yang menciptakan, memelihara, dan menguasai diri kita dan apa yang kita punya yaitu hak uluhiyah (persembahan segala bentuk ibadah kepadaNya saja).
 
Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Al Baqarah: 21:
 
يا أيُّها النّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ والَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
 
"Wahai manusia sekalian! Sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian agar kalian bertakwa."
 
Diriwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma bahwa beliau menafsiri perkataan Allah “sembahlah Rabb kalian” dengan tafsiran “tauhidkan Rabb kalian”.

Imam Ibnu Jarir At Tabari rahimahullah di dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa ibadah diartikan dengan ketundukan penuh kepada Allah dengan ketaatan dan merendahkan diri di hadapanNya secara total. Dan maksud dari pernyataan Ibnu Abbas tersebut “tauhidkan Rabb kalian” adalah mengesakan Allah dalam segala macam ibadah dan ketaatan dan tidak menduakanNya.
 
“Agar kalian bertakwa” maksudnya agar kalian melindungi diri dari murka dan azab Pencipta dan Pemilik kalian dengan mempersembahkan ibadah  hanya untukNya dan mentaatiNya dalam segala perintah dan laranganNya di atas bumiNya ini.
 
Di ayat selanjutnya perintah Allah agar kita mentauhidkanNya dalam persembahan ibadah semakin tergambar jelas. Allah Taala ingin kita menyadari keesaan rububiyahNya sehingga kita turut mengesakanNya dengan ubudiyah kita. Allah berfirman:
 
الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ فِراشًا والسَّماءَ بِناءً وأنْزَلَ مِنَ السَّماءِ ماءً فَأخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَراتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أنْدادًا وأنْتُمْ تَعْلَمُونَ
 
“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian; karena itu janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui.” [QS. Al Baqarah:21]
 
Imam Ibnu Katsir rahimahullah di dalam kitab tafsirnya juga menerangkan: 
 
شرع تبارك وتعالى في بيان وحدانية ألوهيته، بأنه تعالى هو المنعم على عَبيده، بإخراجهم من العدم إلى الوجود وإسباغه عليهم النعمَ الظاهرة والباطنة...إلى أن قال: 
أنه الخالق الرازق مالك الدار، وساكنيها، ورازقهم، فبهذا يستحق أن يعبد وحده ولا يُشْرَك به غَيره؛ ولهذا قال: ( فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ )
 
Disini Allah Taala mulai menerangkan keesaan uluhiyahNya (hak diibadahi). Hal itu lantaran Dialah yang memberi beragam nikmat kepada seluruh hambaNya, mulai dari membuat mereka ada berwujud dari ketiadaan hingga mengucurkan aneka nikmat yang zahir maupun batin untuk mereka semua.
 
Dialah Sang Pencipta, Pemberi rezeki, Penguasa semesta berserta seluruh penghuninya. Karena alasan inilah Dia sangat berhak untuk disembah dan tidak boleh disekutukan dengan siapapun. Makanya, Allah menyatakan: “karena itu janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui.”
 
Pembaca Alukatsir.com yang Allah rahmati, inilah hak terbesar Allah atas diri kita semua yang jangan sampai kita keliru meletakkan hak utamaNya ini kepada selainNya, siapapun orangnya!
 
عن ابن مسعود، قالقلتيا رسول الله، أي الذنب أعظم؟ قال: "أن تجعل لله ندا، وهو خلقك"
 
Dari Ibnu Masud radhiyallahu anhu, dia berkata: Aku pernah bertanya: Duhai Rasulullah, dosa apa yang paling besar? Beliau menjawab: “Engkau mempersekutukan Allah padahal Dia telah menciptakanmu.” [Muttafaq alaih]
 
Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah turut mengomentari tafsir ayat ini, beliau berkata:
 
وهذه الآية جمعت بين الأمر بعبادة الله وحدهوالنهي عن عبادة ما سواهوبيان الدليل الباهر على وجوب عبادتهوبطلان عبادة من سواهوهو ذكر توحيد الربوبيةالمتضمن لانفراده بالخلق والرزق والتدبير، فإذا كان كل أحد مقرا بأنه ليس له شريك في ذلكفكذلك فليكن إقراره بأن [اللهلا شريك له في العبادةوهذا أوضح دليل عقلي على وحدانية الباري، وبطلان الشرك
 
“Ayat ini menggabungkan dua perkara sekaligus: pertama, perintah untuk beribadah kepada Allah semata sekaligus larangan keras untuk mempersembahkan suatu ibadah kepada selainNya. Kedua, penjelasan fakta yang tidak terelakkan atas kewajiban menyembahNya dan ketidaksahan persembahan ibadah kepada selainNya.
 
Dan ini disebut pula dengan tauhid rububiyah yang berisi pengakuan keesaan Allah dalam penciptaan, pemberian rezeki, dan pengaturan alam semesta. Apabila seseorang telah mengakui bahwa tiada sekutu bagi Allah dalam hal-hal tadi maka ia seharusnya juga berikrar bahwa Allah tiada sekutu bagiNya dalam persembahan ibadah.
 
Ini merupakan dalil akli (yang bersifat nalar) atas keesaan Allah dan kekejian syirik.”
 
Semoga Allah menguatkan langkah penulis dan pembaca sekalian untuk terus memurnikan ibadah hanya kepadaNya dan menjauhkan kita dari syirik kecil maupun besar hingga akhir hayat kita semua. Amin.
 
Disusun oleh:
Syadam Husein Alkatiri
 



#alukatsir
 

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram