Apa Yang Anda Ketahui Tentang Ibadah?

Pembaca Alukatsir.com yang Allah rahmati, setelah menyadari melalui infografis ringkas ini bahwa ibadah itu tidak sebatas shalat fardhu, puasa Ramadan, dan berhaji, namun cakupan dan ragamnya lebih luas, hendaknya kita tidak lupa menghadirkan niat di balik itu semua. Niat tulus menggapai ridha dan pahala dari Allah Ta’ala.










Ibadah dengan segala bentuk dan ragamnya tersebut juga bertingkat-tingkat disisi Allah. Faridhah atau ibadah yang bersifat wajib adalah ibadah yang paling Allah sukai dari seorang hamba untuk dipersembahkan. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis:


وما تقرب إلي عبدي بشيء أحب إلي مما افترضت عليهوما يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه


“Tiada amalan yang hambaKu persembahkan sebagai bentuk mendekatkan diri kepadaKu dan paling Aku sukai melebihi amalan wajib yang Aku telah tetapkan. Dan apabila hambaKu terus menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunah, niscaya Aku akan mencintainya.” [HR. Bukhari no. 6502]


Jika diurut, ibadah wajib tentu saja berada di atas ibadah sunah dimana hal itu tentu lebih diutamakan dan ditekankan untuk kita kerjakan. Setelah berhasil merutinkan ibadah wajib, barulah kita juga menyertai ubudiyah kita dengan ibadah sunah dan merutinkankannya juga semampu kita.


Perlu diketahui pula bahwa ibadah wajib pun bertingkat-tingkat. Dan ibadah wajib yang paling utama diperhatikan ialah ibadah-ibadah hati yang berkaitan dengan hak Allah seperti keikhlasan, pengharapan pada Allah (raja’), kekhawatiran pada murka Allah, ketergantungan hati padaNya, dan lain sebagainya.


Demikian halnya ibadah wajib yang bersifat zahir berupa shalat lima waktu. Ia menempati posisi yang tidak kalah urgen dan tinggi dimana Rasulullah  menyatakan bahwa shalat adalah tiang keimanan, rukun Islam kedua, dan amalan pertama yang ditanyakan kepada seorang muslim saat dihisab kelak.


أول ما يحاسب الناس به يوم القيامة من أعمالهم الصلاة 


“Amalan pertama yang akan dimintai pertanggungjawabannya kepada seorang hamba di Hari Kiamat kelak adalah shalatnya. Jika baik, sunguh dia akan beruntung dan selamat. Jika tidak baik, sungguh dia akan menyesal dan merugi.” [HR. Tirmizi no. 413]


Berikut ini tujuh faedah seputar hadis Bukhari tentang keutamaan ibadah fardhu yang kami sarikan dari penjelasan Ibnu Hajar dalam Kitab Fathu Al Bari:

  1. Lafaz hadis mencakup segala ibadah yang Allah wajibkan, baik fardhu ‘ain maupun kifayah.
  2. Mengerjakan ibadah wajib adalah sebaik-baik amalan yang dicintai disisi Allah. Perintah mengerjakan ibadah wajib sangat tegas dan ada ancaman bagi orang yang meninggalkannya, hal ini tentunya berbeda dengan perintah mengerjakan ibadah sunah.
  3. Ibadah wajib laksana pondasi dan dasar. Adapun ibadah sunah maka ia laksana cabang dan bangunannya.
  4. Disamping ibadah wajib menjadi amalan yang paling disukai, ia juga merupakan amalan yang paling berpeluang besar membuat hamba semakin dekat dengan Allah.
  5. Ada banyak alasan dibalik ibadah wajib menempati posisi teratas, diantaranya dengan mengerjakan ibadah wajib sesuai tatacara yang diperintahkan maka perintah Allah dilaksanakan sekaligus mengagungkan Tuhan yang memerintahkan hal itu. Disitu juga ada bentuk menampakkan kebesaran Rububiyah Allah sekaligus menunjukkan penghambaan dan penghinaan diri kepadaNya.
  6. Sepintas jika dibaca bahwa cinta Allah kepada hambaNya akan terjadi setelah dirinya merutinkan nafilah (amalan sunah) sedangkan faridhah (amalan wajib) yang merupakan ibadah paling dicintai Allah tidakkah menghadirkan cintaNya? Jawabannya:

Pertama, yang dimaksud dengan nafilah di hadis ialah nafilah yang dibarengkan dengan faridhah dan penyempurna dari faridhah itu. Artinya, selama seorang hamba mengerjakan faridhah kemudian merutinkan pula nafilah seperti shalat dan puasa sunah setelah shalat fardhu dan puasa Ramadhan maka ini yang akan mendatangkan cinta Allah kepadaNya.

Ibnu Hubairah rahimahullah menjelaskan: “Mengerjakan nafilah namun tidak menunaikan faridhah maka nafilah kehilangan esensinya. Siapa yang menunaikan faridhah kemudian menghiasinya dengan nafilah maka tujuan mendekat kepada Allah akan tercapai.

Kedua, sebagaimana menjadi kebiasaan bahwa upada pendekatan itu dilakukan dengan hal yang bersifat tidak wajib seperti memberi hadiah, bukan dengan memberi hal yang memang sudah menjadi kewajiban orang yang berusaha dekat tadi seperti mengembalikan hutang.

Ketiga, ibadah nafilah pada dasarnya untuk menutup celah kekurangan dari pengerjaan ibadah faridhah. Oleh karena itu, tujuan dari mengerjakan nafilah akan terwujud bagi orang yang menunaikan faridhah, bukan bagi orang yang teledor terhadap faridhah.

Ada ucapan yang masyhur: “Orang yang tersibukkan dengan menunaikan faridhah dari mengerjakan nafilah maka ia termaafkan. Sedangkan orang yang tersibukkan dengan menunaikan nafilah dari mengerjakan faridhah maka ia telah terperdaya.”


Demikian. Semoga bermanfaat.


#alukatsir



0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram