Dua Hal Penting Untuk Direnungi Sebelum Sakit

Alhamdulillah. Segala pujian hanya untuk Allah semata. Diantara bentuk ujian hamba di pentas bumi ini adalah cobaan yang berhubungan dengan kesehatannya. Dua kondisi yang datang silih berganti pada diri seorang hamba hingga ia menjumpai kematiannya, yaitu sehat dan sakit.

Sehat adalah ujian dari Allah Azza wa Jalla kepada hambaNya, sedangkan sakit merupakan sisi lain dari ujian tersebut. Allah Ta'ala senantiasa menguji hamba-hambaNya dengan dua hal tadi; apakah si hamba termasuk orang yang pandai bersyukur manakala berada dalam kondisi sehat dan memanfaatkannya dalam rangka ibadah dan kebaikan, ataukah malah terbuai dengan kesehatannya dengan melakukan hal sia-sia maupun maksiat.

Ketika sakit, seorang hamba juga dilihat bagaimana dirinya menghadapi kondisi ini, apakah ia tegar bersabar dalam pahitnya ujian dengan terus-terusan meminta kesembuhan kepada Allah semata dan menempuh asbab kesembuhan yang telah ditetapkan secara syariat dan medis, ataukah malah menunjukkan sikap murka dan menyalahkan ketetapan Allah atas dirinya serta menempuh jalur yang melanggar tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam semisal berobat kepada dukun atau mengharap kesembuhan dari selain Allah.

Pembaca Alukatsir.com yang Allah rahmati, di ulasan kali ini penulis mengangkat bahasan seputar dua hal penting untuk direnungi sebelum sakit. Bahasan ini sebagai pengantar bahasan yang penulis akan angkat di kesempatan mendatang dengan judul: Nilai Tauhid di Balik Untaian Doa Minta Kesembuhan.

Ada sejumlah nilai tauhid yang terkandung di balik doa yang dipanjatkan oleh seorang hamba yang tengah sakit dan sangat penting untuk dimengerti bersama; agar menambah kuat pengharapan kita kepada Allah Azza wa Jalla.

Sebelum mengupas nilai tauhid di balik doa minta kesembuhan, ada baiknya kita memahami dulu dua hal penting untuk dipahami sebelum sakit menimpa berikut ini:

Dua Hal Penting Untuk Direnungi Sebelum Sakit

Pertama:
Kesembuhan hanya berasal dari Allah Azza wa Jalla. Dialah satu-satunya yang dapat menyembuhkan segala penyakit, baik dengan sebab kesembuhan yang ditetapkanNya secara syariat seperti rukyah maupun secara medis seperti obat-obatan.

Kendati demikian, terkadang Allah mengakhirkan kesembuhan seorang hamba walaupun asbab kesembuhan telah terpenuhi karena suatu hikmah yang Allah kehendaki seperti agar si hamba tadi lebih lama merintih di hadapanNya dan menunjukkan kelemahan diri padaNya.

Momen seorang hamba seperti ini di hadapan Allah begitu dicintai olehNya dan inilah hakikat ubudiyah hamba kepadaNya. Bisa jadi momen seperti ini tidak terjadi jika si hamba tersebut terus-terusan dalam keadaan sehat atau intensitasnya mungkin berkurang dikala sehat. Maka, kesembuhan terkadang diakhirkan karena Allah ingin melimpahkan pahala yang banyak sekaligus menghapus dosa-dosa si hamba hingga tidak berbekas.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda dalam sebuah hadis dari Abu Said Al Khudri dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma:

 مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ، وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ، وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ ".

“Tidak ada sesuatu apapun dari rasa letih, rasa sakit, kecemasan, kesedihan, gangguan, rasa gundah di hati, hingga sekedar duri kecil, yang menimpa seorang muslim melainkan Allah akan menghapuskan dengannya dosa-dosanya.” [Shahih Bukhari, No. 5641]

Allah juga Maha Kuasa menyembuhkan penyakit seorang hamba walau asbab kesembuhan belum sepenuhnya ditunaikan oleh si hamba tersebut. Karena sejatinya, Allah adalah pemilik Nama Asy-Syafi (Maha Penyembuh) yang mengandung Sifat Maha Menyembuhkan segala macam penyakit.

Nabi Ayyub ‘alaihi salam adalah salah satu potret nyata bagaimana seorang hamba hakiki yang bersabar dengan penyakit yang menimpa badan beliau dan musibah terjadi atas keluarga dan harta beliau. Tidak sekalipun terucap kata marah atau ketidakterimaan terhadap takdir yang menimpanya.

Justru beliau tidak pernah bosan menggantungkan harapan dan kesembuhan kepada Allah Azza wa Jalla melalui untaian-untaian doa yang dipanjatkannya. Disitulah beliau mengadukan pahitnya cobaan demi cobaan yang dilalui beliau di waktu yang hampir bersamaan.

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ • فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ

“dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” [QS. Al Anbiya: 83]

Oleh karena itu, tidak patut seorang hamba malah lupa meminta kesembuhan kepada Allah di tengah kondisi lemahnya dan malah berpaling dariNya. Padahal di kondisi seperti inilah kedekatan dan pengharapannya kepada Allah semakin kuat. Orang sakit yang jarang memanjatkan doa minta kesembuhan dan pergi mengupayakan kesembuhan penyakitnya kepada selain Allah itu pada dasarnya telah mengabaikan tujuan dari ujian sakit yang diberikan oleh Allah pada dirinya.

Saudaraku, renungilah satu ayat dari Al Quran berikut ini:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ 

"Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka menjawab: "Allah". Katakanlah: "Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?. Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku". Kepada-Nya-lah bertawakkal orang-orang yang berserah diri. [QS. Az Zumar: 38]

Kedua:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat memperhatikan hal yang berkenaan dengan kemurnian tauhid, terlebih ketika seseorang tengah berada dalam kondisi lemah atau khawatir terhadap kesehatannya.

Beliau bersabda dalam sebuah hadis riwayat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dimana beliau melarang dan mengelompokkan tamimah, yaitu mengantungkan sesuatu di badan untuk menolak penyakit maupun menyembuhkannya, sebagian bagian dari kesyirikan fatal:

إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ

“Sesunggunya rukyah, tamimah, dan tiwalah, termasuk syirik.”

Rukyah dikategorikan syirik adalah rukyah yang dilarang dan tidak sesuai tuntunan syariat. Tamimah ialah menggantung sesuatu di badan dengan tujuan tolak bala atau penyakit. Dalam hal ini, segala benda yang diletakkan walau tidak digantung di selain badan manusia seperti di kendaraan atau pintu rumah jika untuk tujuan yang sama maka itu termasuk yang dilarang juga. Adapun tiwalah sendiri maka ia adalah salah satu jenis sihir yang ditujukan untuk membuat seseorang semakin cinta kepada pasangannya (pelet). [Lihat kitab 'Aunul Ma’bud karya Adzim Abadi, (10/262)]

Bukan hanya mengelompokkan tamimah bagian dari syirik, ketika ada yang mengikat sesuatu di tangannya dengan tujuan seperti diatas dan dilihat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau segera menyuruhnya untuk melepasnya dan menegaskan kembali kesalahan fatal seperti ini.

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ الْحُصَيْنِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَجُلًا فِي يَدِهِ حَلْقَةٌ مِنْ صُفْرٍ، فَقَالَ: " مَا هَذِهِ الْحَلْقَةُ؟ " قَالَ: هَذِهِ مِنَ الْوَاهِنَةِ. قَالَ: "انْزِعْهَا؛ فَإِنَّهَا لَا تَزِيدُكَ إِلَّا وَهْنًا ".

"Dari Imran bin Husain radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melihat gelang dari tembaga di tangan seorang laki-laki, maka beliau bertanya: "Apakah maksud dari gelang ini?" laki-laki itu menjawab, "Ini adalah wahinah." Beliau bersabda: "Lepaslah, karena jimat itu tidak akan menambahmu melainkan kesengsaraan." [HR. Abu Daud, no. 3531]

Demikian pula para sahabat beliau yang paham betul pentingnya menjaga perkara tauhid dan ketergantungan hati di setiap kondisi, termasuk ketika sakit atau cemas terhadap datangnya penyakit. Mereka tidak segan untuk menegur dengan keras jika ada orang yang justru menempuh jalur di luar koridor syariat dalam berobat atau menghindari penyakit.

Adalah seorang sahabat mulia bernama Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu yang mendapati hal seperti ini di hadapannya kemudian beliau melarang sambil mengemukakan alasan kuat dibalik sikap tegas beliau dalam hal ini.

ولابن أبي حاتم عن حذيفة: " أنه رأى رجلا في يده خيط من الحمى، فقطعه، وتلا قوله: {وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلاَّ وَهُمْ مُشْرِكُونَ}

Ibnu Abi Hatim rahimahullah membawakan kisah dari Hudzaifah bahwa beliau sempat mendapati seorang lelaki mengenakan sejenis gelang dari benang dengan niat menghindari atau menyembuhkan sakit demam. Seketika itu pula beliau memutus gelang tadi sambil membacakan ayat yang artinya “Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” [Lihat Kitab Tauhid di Bab Termasuk Syirik Mengenakan Gelang atau Kalung Dan Semisalnya Dengan Tujuan Menolak Bala atau Mengangkatnya]

Dan tidak ada orang yang lebih mengenal dan paham bagaimana ajaran Rasulullah selain para sahabat beliau sendiri yang mendapat didikan dan arahan langsung dari beliau. Mereka paham betul mana hal yang sangat dibenci Rasululullah shallallahu 'alaihi wasallam. Salah satunya adalah terjerumusnya seseorang ke dalam lembah kesyirikan di saat ia sedang sakit atau khawatir terhadap kesehatannya; perkara yang tidak bisa diremehkan sama sekali!

Jadi, jangan sampai kita terperosok ke situ padahal Allah Azza wa Jalla menurunkan suatu penyakit kepada hambaNya demi kebaikan hamba itu sendiri; untuk mengangkat derajatnya, melimpahkan pahala padanya, menghapus dosa-dosanya sehingga membuat hamba tadi semakin dekat kepadaNya dengan banyak mengadu dan merintih pada Rabbnya sebagai satu-satunya tempat ia menggantungkan harapan dan meminta kesembuhan.

Demikian, semoga bermanfaat untuk penulis dan semua Pembaca Alukatsir.com

Syadam Husein
Di Kota Nabi, 19 Rajab 1440 H



0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram