Mengikis Penyakit Malas Belajar Dengan 3 Hal Ini

Bismillah. Kebodohan adalah hal yang tidak disukai siapapun di dunia ini. Tak ayal, tak seorangpun sudi jika penyakit satu ini tersemat di dirinya atau dikatai sebagai orang bodoh, apalagi bodoh dalam urusan agama yang dianutnya.

Ingin kebodohan diangkat oleh Allah Ta’ala tanpa usaha dan pengorbanan adalah bualan semata. Seseorang harus berjuang dan berkorban untuk membuang jauh-jauh kebodohan dari dirinya, terkhusus masalah agama. Jika ingin paham bagaimana bersuci dari najis yang sesuai syariat maka Anda harus mau duduk belajar dan meluangkan waktu untuk mempelajarinya.

Sebagaimana ketetapan Allah berlaku di muka bumi bahwa segala sesuatu itu dijalani melalui proses dan sebab, tidak ada yang instan. Demikian pula menghilangkan kebodohan diri yang menyangkut syariat Islam, ia mesti diusahakan.

Siapa saja yang ingin menjadi orang yang paham sesuatu ya mau tidak mau harus meluangkan waktu dan mengorbankan perhatiannya untuk itu. Orang yang ingin pintar di bidang kedokteran berarti ia harus siap berjuang untuk itu; ia harus mempersiapkan diri dan mengorbankan waktu, pikiran, dan hartanya untuk menggapainya.

Orang yang berhasrat jadi pengusaha berarti ia harus siap berkorban apa yang dipunya dan menanggung risiko yang bisa muncul di tengah usaha mewujudkan impiannya itu.

Pembaca Alukatsir.com yang dimuliakan Allah, di kesempatan kali ini penulis ingin mengangkat bahasan seputar motivasi agar kita kian semangat memperdalam ilmu agama yang kita anut dan yakini ini, yaitu Islam.
Mengikis Penyakit Malas Belajar Dengan 3 Hal Ini

Perlu diketahui bahwa memperdalam ilmu agama hukumnya wajib bagi setiap orang. Memperdalam yang dimaksud adalah pada batasan yang tidak boleh diabaikan oleh setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasulullah. Batasan tersebut berupa pemahaman terhadap hal-hal yang bersifat pundamental (pokok) dalam agama ini seperti mempelajari rukun Islam, rukun Iman, tata cara beribadah yang wajib seperti shalat dan puasa Ramadhan.

Adapun mempelajari hal detail seperti ilmu faraidh (waris), ilmu ushul fikih, ilmu hadits, dan semisalnya maka hukumnya adalah wajib bagi keumuman umat, bukan wajib bagi setiap orang. Dengan kata lain, hal tersebut bersifat fardhu kifa’iy yangmana jika sudah dipelajari oleh sebagian orang dari umat ini maka kewajiban tersebut akan gugur atas keumuman umat.

Jika menelusuri secara seksama maka kita akan dapati banyak ayat dan hadis seputar keutamaan menuntut ilmu agama dan keistimewaan orang-orang berilmu. Demikian pula perkataan para salaf mengenai hal ini. Penulis akan memaparkan satu ayat, satu hadis, dan satu ucapan sahabat Nabi; semoga hal itu menguatkan kembali semangat menuntut ilmu sekaligus mengikis sifat malas dan kebodohan dari diri kita semua.

Pertama, Allah Azza wa Jalla menyematkan pujian yang begitu tinggi bagi hambaNya yang berilmu. Tentu saja ilmu yang dimaksud disini adalah ilmu agama. Allah Azza wa Jalla berfirman:

يرفع الله الذين آمنوا منكم والذين أوتوا العلم درجات، والله بما تعملون خبير

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. [QS. Al Mujadilah: 11]

Kedua, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang dipastikan tidak mengeluarkan satupun ucapan berkaitan dengan agama ini melainkan itu berasal dari petunjuk dan wahyu Allah, beliau sendiri pernah menyampaikan keistimewaan yang luarbiasa bagi siapa saja yang berusaha mempelajari ilmu agama. Beliau bersabda dalam satu hadisnya:

ومن سلك طريقا يلتمس فيه علما سهّل الله له به طريقا إلى الجنة، وما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله يتلون كتاب الله ويتدارسون فيما بينهم إلا نزلت عليهم السكينة وغشيتهم الرحمة وحفّتهم الملائكة وذكرهم الله فيمن عنده

Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan ke surga baginya. Tidaklah sekelompok orang berkumpul di suatu masjid (rumah Allah) untuk membaca Al Qur'an dan mempelajarinya, melainkan mereka akan diliputi ketenangan, rahmat, dan dikelilingi para malaikat, serta Allah akan menyebut-nyebut mereka pada malaikat-malaikat yang berada di sisiNya. [HR. Muslim: no4867]

Ada kisah menarik yang terjadi di salah satu masjid Kota Damaskus. Katsir bin Qais bercerita, ketika aku sedang duduk di samping Abu Darda -salah satu sahabat Nabi- di masjid Damaskus, tiba-tiba datang seseorang seraya berkata; "Hai Abu Darda, aku mendatangi anda dari kota Madinah, kota Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam karena satu hadits yang telah sampai kepadaku, bahwa engkau telah menceritakannya dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam”.

Lalu Abu Darda memastikan; "Apakah engkau datang karena berniaga?" 
Orang itu menjawab: "Bukan"
Abu Darda` bertanya lagi, "Apakah karena ada urusan yang lainnya?"
Orang tersebut kembali meyakinkan: "Sama sekali bukan”

Katsir bin Qais melanjutkan ceritanya, Abu Darda pun berkata: “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Barangsiapa meniti jalan untuk mencari ilmu, Allah akan permudahkan baginya jalan menuju surga. Para Malaikat akan membentangkan sayapnya karena ridha kepada penuntut ilmu. Dan seorang penuntut ilmu akan dimintakan ampunan oleh penghuni langit dan bumi hingga ikan yang ada di air. Sungguh, keutamaan seorang alim dibanding seorang ahli ibadah adalah ibarat bulan purnama atas semua bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi, dan para Nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang sangat besar." [HR. Ibnu Majah: no219]

Ketiga, seorang sahabat terkenal yang bernama Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu berpesan agar kita menjadi orang yang paham agama, minimal paham bagaimana beribadah dengan benar dan jangan jadi orang bodoh yang tidak mau belajar atau tidak berusaha belajar tata cara ibadah yang Allah perintahkan kepada masing-masing kita. Ibnu Mas’ud berpesan:

اغد عالما أو متعلّما أو مستمعا ولا تكن الرابع فتهلك

Abdullah bin mas'ud radliallahu 'anhu ia berkata: "Siapkanlah diri kamu (untuk menjadi) seorang ulama`, seorang pelajar, atau seorang pendengar setia, dan janganlah kamu menjadi (bagian) dari yang keempat, niscaya kamu akan celaka". [HR. Darimi: no250]

Demikian bahasan yang penulis angkat kali ini. Semoga menjadi pelecut semangat diri dan Segenap Pembaca Alukatsir.com untuk mengikis malas belajar ilmu agama. Amin...




Disusun oleh Syadam Husein Al Katiri -semoga Allah mengampuni dosanya dan membimbing langkahnya-

di Kota Banjarmasin, 23 Syawal 1440 H



0 komentar:

Posting Komentar