Kisah Nenek Yang Terdzalimi Di Tanah Habasyah

Tidak ada sebuah dosa yang hukumannya disegerakan di dunia melebihi kedzaliman dan kedurhakaan kepada kedua orang tua. Hukumannya diberikan kepada si pelaku di dunia kemudian di akhirat dirinya kembali diazab di neraka; sungguh sebuah kerugian dan kesengsaraan yang berlipat.

Di banyak ayat dari Al Quran Al Karim, Allah Azza wa Jalla menegaskan bahwa orang-orang yang berbuat dzalim itu tidak akan pernah bahagia, tidak akan diberi petunjuk, dan semakin lama mereka hidup semakin menambah kebangkrutan mereka, serta tempat kembali mereka itu adalah neraka pusat adzab yang sangat perih.

Diantaranya Allah Ta’ala berfirman:

إنه لا يفلح الظالمون

“Sesungguhnya orang-orang dzalim tidak akan beruntung.” [QS. Al An’am: 135]

إن الله لا يهدي القوم الظالمين

“Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang dzalim.” [QS. Al An’am: 144]

ومأواهم النار، وبئس مثوى الظالمين

“Dan tempat kembali mereka adalah neraka. Dan itu tempat terburuk bagi orang-orang dzalim.” [QS. Ali Imran: 151]

Walaupun ayat-ayat suci di atas membicarakan ancaman keras dan kesudahan menyedihkan dari perbuatan dzalim namun bentuknya bertingkat-tingkat. Dan kesemuanya itu mengusung nama ‘kedzaliman’.

Perbuatan dzalim itu sendiri terbagi menjadi tiga tingkatan: Pertama, dzalim terhadap hak dan syariat Allah. Kedua, dzalim terhadap orang lain dan hak-haknya. Ketiga, dzalim terhadap diri sendiri.

Bentuk kedzaliman yang dialami seorang nenek ini adalah kedzaliman tingkat kedua, mendzalimi orang lain. Imam Adz Dzahabi rahimahullah memasukkan perbuatan semacam ini ke dalam Kaba’ir (dosa besar). Bahkan, beliau mengingatkan agar kita harus menghidari perbuatan dzalim kepada orang lain karena bisa menyeret kita kepada kebinasaan. [Lihat: Al Kaba’ir karya Adz Dzahabi tentang dosa besar mendzalimi orang lain]

Tidak heran, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering mengingatkan bahaya mendzalimi orang lain atau hak diantara hak-haknya dalam hadis-hadis beliau.

Terkadang Beliau memberikan peringatan agar menghindari doa orang yang terdzalimi. Terkadang pula Beliau menyuruh kita tidak berbuat dzalim sedikitpun mengingat dampak buruknya terhadap keselamatan hidup kita di dunia dan di akhirat.

Rasulullah berpesan kepada Muadz bin Jabal radhiallahu anhu ketika hendak mengutusnya ke negeri Yaman:

وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

“Takutlah terhadap do'a orang yang terdzalimi karena antara dia dan Allah tidak ada hijab (pembatas yang menghalangi)nya.” [HR. Bukhari]

Di hadis Jabir bin Abdillah radhiallahu anhuma, Rasulullah mewanti-wanti umat beliau dengan sabdanya:

اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Jauhi perbuatan dzalim, karena hal itu mendatangkan kegelapan demi kegelapan (di diri pelakunya, Pent) di Hari Kiamat kelak.” [HR. Muslim]


Pembaca Alukatsir.com yang dirahmati Allah, berikut ini penuturan sekelompok sahabat yang pernah hijrah ke sebuah negeri yang terpisahkan jarak dan lautan dari Kota Makkah di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Negeri Habasyah.

Berikut redaksi hadis Jabir bin Abdillah yang dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunannya (no4010) dengan sanad yang hasan:

“Sesaat rombongan Muhajirin yang menyeberangi lautan kembali dan berjumpa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bertanya: "Maukah kalian menceritakan kepada kami hal-hal yang mengagumkan yang kalian lihat di bumi Habasyah?"

Sekelompok pemuda dari mereka menjawab, "Baik ya Rasulullah, suatu saat kami tengah duduk-duduk, lewatlah seorang wanita tua dari biarawati mereka sedang memanggul tempayan air di atas kepala. Kemudian wanita tua itu melewati seorang pemuda dari kaumnya, hingga pemuda itu meletakkan salah satu tangannya di antara pundak wanita tersebut, lalu pemuda itu mendorongnya sehingga si nenek itu tersungkur di atas kedua lututnya dan tempayan airnya pun pecah.

Ketika wanita tua itu berdiri, dia menoleh ke pemuda dan mengungkapkan kekesalan dan ketidakberdayaannya: “Suatu saat kamu akan mengetahui wahai Ghudar (penghianat), di saat Allah meletakkan kursiNya dan mengumpulkan orang yang terdahulu dan yang terakhir, tangan-tangan dan kaki-kaki akan bersaksi terhadap apa yang mereka kerjakan. Dan kamu akan mengetahui bagaimana urusanku dan urusanmu di sisiNya kelak."

Jabir berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Wanita tua itu benar, wanita tua itu benar, bagaimana mungkin Allah akan memberikan keberkahan pada kaum dimana orang yang lemah tidak dibela oleh yang kuat."

Demikian kisah seputar kedzaliman yang diceritakan oleh sejumlah sahabat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sesaat mereka kembali dari tanah Habasyah.

Semoga bermanfaat.

0 komentar:

Posting Komentar