Sehat, Sakit, Dan Wabah Saat Ini


وَمَا بِكُمْ مِّنْ نّـِعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ثُمَّ اِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْئَرُوْنَ

Dan segala nikmat yang ada padamu itu (datangnya) dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka hanya kepadaNya-lah kamu meminta pertolongan.

ثُمَّ اِذَا كَشَفَ الضُّرَّ عَنْكُمْ اِذَا فَرِ يْقٌ مِّنْكُمْ بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُوْنَ

Kemudian apabila Dia telah menghilangkan bencana dari kamu, malah sebagian kamu menyekutukan Allah dengan (selainNya).

9 Faedah Dari Tafsir Ayat 53-54 Surat An Nahl

#Segala bentuk nikmat dan kelebihan yang kita miliki, baik berupa kesehatan, kekuatan, kelapangan harta, atau karir yang semakin berkembang maka sesungguhnya Allah-lah yang memberikan itu semua, bukan yang lain.

#Pada hakikatnya, itu merupakan limpahan nikmat dari Allah semata. Dia menginginkan dari kita agar nikmat-nikmat tersebut dinikmati dan dipergunakan dalam kebaikan dan ridhaNya.

#Kita perlu khawatir dari terangkatnya nikmat-nikmat yang ada lantaran itu semua bersumber dari Allah saja dan masih terus berada di tanganNya.
Jika Dia kehendaki maka itu semua akan sirna dalam sekejap dari genggaman kita.
Dan jika Dia kehendaki pula maka nikmat tersebut akan bertahan lama, bahkan bertambah banyak; tidak ada seorangpun yang sanggup menahan kehendak Allah Azza wa Jalla atas hal itu.

#Kaidah yang dapat diambil disini adalah keberlangsungan suatu nikmat dan kelebihan yang kita miliki terkait erat dengan keputusan Allah Azza wa Jalla sebagaimana kemunculannya untuk kita juga berasal dari Allah semata. Hal ini disebutkan oleh Ibnu Rajab rahimahullah dalam tafsir ayat ini.

#Demikian halnya kesengsaraan dan cobaan hidup yang kita rasakan selama ini. Baik berupa penyakit maupun himpitan ekonomi, itu semua terjadi atas kehendak Allah. Dan sikap yang tepat adalah kembali kepada Allah, bersimpuh dan memelas kepadaNya agar musibah segera menghilang dari kita.
Panjatan doa yang hendaknya disertai sikap meninggikan harapan dan keyakinan bahwa Allah-lah satu-satunya yang Maha Kuasa mengangkat musibah itu dari kehidupan kita.

#Sebagaimana sikap kita begitu yakin kepada Allah ketika tertimpa musibah, maka sudah sepatutnya keyakinan tersebut juga ada ketika ingin menggapai apa yang belum tercapai dari harapan dan impian kita.

#Terkadang kita hanya menyadari nikmat yang tampak saja dan tidak menyadari keberadaan nikmat yang tidak tampak (bathin). Padahal keduanya sama-sama berasal dari Allah Ta’ala. Oleh karenanya, sebagai bentuk syukur kita dan sudah menjadi kewajiban kita untuk mempersembahkan ibadah dan penghambaan diri kita hanya kepadaNya, tanpa menduakanNya dengan seorangpun makhluk. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh As Sa’dy dalam tafsirnya.

#Allah-lah yang memberi suatu karunia kepada seorang hamba dan Dia pula yang kuasa menghindarkan hambaNya dari kehilangan karunia tersebut. Maka, jangan pernah putus berdoa kepadaNya agar menjaga karunia yang ada atau mengangkat musibah yang menimpa karena hanya Dia-lah Rabb yang Maha Kuasa lagi Mampu untuk itu; jangan berpaling dariNya sedikitpun.

#Sungguh mengherankan, seseorang melupakan Allah tatkala asik menikmati karunia dan pemberianNya. Dan lebih mencengangkan lagi adalah kondisi seseorang yang tengah berada dalam kesulitan atau musibah namun tetap enggan kembali kepada Allah yang maha kuasa merubah keadaan sulitnya; pada dasarnya, segenap makhluk sudah mengetahui dan meyakini Allah sebagai Rabb mereka (Pencipta, Pemberi karunia, Pemelihara, dst) namun kemudian lupa akan hal itu atau sikap sebagian mereka menunjukkan kealpaan akan hal tersebut.

Demikian. Semoga bermanfaat.

Ref:
تفسير الطبري (١٧/٢٢٤-٢٢٥)
تفسير ابن رجب (١/٦١٣)
الدر المنثور للسيوطي (٩/٦٢)
تفسير السعدي (٤/٨٨٧)


0 komentar:

Posting Komentar