Pengalaman Pertama Ikut Munaqasyah Online

Sore hari tiba-tiba hape saya berdering. Ada panggilan masuk dari dosen pembimbing. Beliau mengabari bahwa jam 9 malam nanti ada sidang disertasi salah satu mahasiswa yang dimentori oleh beliau.

Beliau bertanya, “apa kamu sudah instal aplikasi zoom?” Saya katakan, “iya, sudah terinstal wahai syaikh. Tolong Anda berkenan untuk kirim link kepada saya untuk masuk nanti.” Beliau mengiyakan dan menjanjikan untuk mengirim linknya sekitar jam 9 nanti.

Dalam benak saya, sidang jarak jauh seperti ini tidak terlalu menegangkan karena berlangsung secara online, tanpa tatap muka langsung dalam satu ruangan.

Kenapa sidang disertasi maupun tesis disini dilaksanakan dari jarak jauh? Karena adanya kebijakan pemerintah Arab Saudi terkait pembatasan covid19 agar penyebarannya tidak meluas. Dan kitapun mentaati aturan tersebut sebagai bentuk kepatuhan terhadap pemimpin.

Ternyata saya keliru! Ketika mengklik link yang dikirimkan dan mulai bergabung, dada saya agak berdegub cukup kencang. Sidang online seperti ini tidak kalah menegangkannya daripada sidang biasanya. Meskipun bukan saya yang sedang menghadapi sidang kali ini namun nuansa tegang tetap mengalir ke darah saya.

Terlebih, beberapa guru saya juga ada di ‘ruangan’ sidang kali ini, bahkan dekan fakultas dan kepala jurusan akidah juga terlihat menghadiri jalannya sidang senior saya dari Jazair ini.

Sidang online berlangsung cukup lama dari jam 9 sampai jam 11.30 malam. Kritikan demi kritikan dilemparkan oleh dua syaikh penguji, sesekali syaikh pembimbing mengutarakan pembelaannya untuk murid beliau.



Namun tidak selamanya sidang berlangsung lancar. Beberapa kali sempat terputus karena mencapai batas waktu 40 menit. Untuk pengguna basic aplikasi ini, setiap mencapai batas waktu tersebut maka pertemuan akan terputus secara otomatis tetapi bisa masuk kembali ke pertemuan yang sama sampai habis waktu 40 menit dan begitu seterusnya.

Setelah penguji kedua selesai menyampaikan kritiknya, semua yang hadir diminta keluar dari ‘ruangan’ online karena hasilnya akan dirapatkan oleh dosen pembimbing dan dua penguji.

Sayapun bergegas keluar, begitu pula dengan yang lain. Selang setengah jam kemudian, ada sms dari dosen pembimbing agar saya kembali memasuki ‘ruangan’ sidang dan mendengarkan pembacaan hasil sidang disertasi.

Sedari awal, saya sudah memprediksi bahwa hasilnya akan memuaskan karena kritikan-kritikan yang dua penguji sampaikan tidak ada yang bersifat fatal. Apalagi, mahasiswa yang bersangkutan dikenal baik oleh para syaikh.

Benar saja, syaikh membacakan hasilnya dan menyatakan disertasi yang berjudul:
‎جهود شيخ الإسلام ابن تيمية في تقرير كلام الله تعالى والرد على مخالفيه
diterima dan diberi nilai mumtaz ma’a martabah syaraf ula.

Setelah itu, semua yang hadir, baik syaikh maupun mahasiswa, mengucapkan selamat kepada mahasiswa yang telah menyelesaikan sidang disertasinya. Saya hanya diam menunggu semua guru selesai menyampaikan tahniah mereka.

“Selamat dan semoga Allah limpahkan berkah untukmu”, ucap saya kepada senior tersebut. Tiba-tiba dosen pembimbing menyebut nama saya dan memperkenalkan kepada dosen-dosen lain bahwa saya juga dimentori beliau sembari melontarkan satu doa, “semoga kamu meraih keberhasilan yang sama”, tutup beliau.

Begitulah cara beliau kasih motivasi kepada saya agar tetap semangat menyelesaikan disertasi saya sekaligus memberi gambaran bagaimana sikap dan pembelaan beliau kepada muridnya ketika sidang berlangsung.

Inilah pengalaman pertama saya dalam mengikuti sidang disertasi yang terpaksa dilangsungkan secara online dan dari jauh karena pandemi global. Semoga Allah segera mengangkat cobaan ini dari kaum muslimin.

Semoga Allah meluruskan niat saya, menjaga semangat menuntut ilmu di diri saya, dan memudahkan urusan saya dan Anda semua. Amin.

0 komentar:

Posting Komentar