Memahami Dan Mengaplikasikan Tauhid Rububiyah

Pembaca Alukatsir.com yang Allah rahmati, di artikel sebelumnya saya menjabarkan pengertian tauhid secara bahasa dan istilah. Saya juga menyebutkan bahwa pembagian tauhid menjadi tiga bagian diambil dari aspek cakupan definisi tauhid itu sendiri yang telah diteliti dan ditelusuri dari konteks Qur’an dan Hadis oleh para ulama kita.

Tidak heran jika Ibnu Jarir At Tabari (wafat 310 H) rahimahullah yang dijuluki sebagai imamnya para ahli tafsir menjabarkan kandungan di balik kata “ilahan wahidan” di dalam buku tafsirnya:


نخلص له العبادة، ونوحد له الربوبية، فلا نشرك به شيئاً، ولا نتخذ دونه رباً


“Kita mesti memurnikan ibadah hanya untukNya. Kita mengesakan rububiyah untukNya dan tidak menduakannya dengan selainNya. Tidak pula menjadikan selainNya itu Rabb.”


Demikian pula Imam Abu Jafar At Thahawi (wafat 321 H), beliau menjelaskan makna tauhid dengan ketiga aspek cakupannya di buku akidahnya:


نقول في توحيد الله معتقدين بتوفيق اللهإن الله واحد لا شريك له ولا شيء مثله ولاشيء يعجزه


“Dengan mengharap taufiq Allah Kita jelaskan tentang tauhid kepada Allah sembari berkeyakinan kuat bahwa Allah itu esa, tiada sekutu bagiNya, tiada yang semisal denganNya, dan tiada yang dapat mengalahkanNya.”


Jika kita perhatikan definisi yang dibawakan oleh At Thahawi diatas, kita dapat bahwa itu mencakup tiga bagian tauhid. “Allah itu esa, tiada sekutu bagiNya” adalah penjabaran tauhid uluhiyah karena lafaz Allah itu sendiri berkaitan erat dengan lafaz ilah yang artinya sesembahan yang disembah. “Tiada yang semisal denganNya” adalah penjabaran singkat tentang tauhid asma dan sifat. “Tiada yang dapat mengalahkanNya” adalah penjabaran ringkas seputar tauhid rububiyah yang berkaitan dengan perbuatan Allah sebagai pencipta dan penguasa alam semesta.


Tauhid yang diusung oleh para Rasul sebagaimana penjelasan Ibnu Al Qayyim rahimahullah adalah menetapkan sifat-sifat kemahasempurnaan untuk Allah secara detil, beribadah hanya untukNya dan tidak menduakanNya. Tidak pula menjadikan satupun makhluk sebagai tandinganNya, baik dalam niatan beramal, kecintaan, rasa takut, pengharapan, sanjungan kata, sumpah, dan nadzar. Bahkan sudah seharusnya seorang hamba itu membuang jauh-jauh segala potensi yang dapat menjadi tandingan Allah di hatinya, tujuannya dalam beramal, ucapan lisannya, dan ibadahnya.


Baiklah. Di artikel kali ini saya akan lebih fokus mengupas ketiga bagian tauhid tersebut berserta dalil-dalilnya. Dan itu diawali dengan bahasan tauhid rububiyah. Selamat membaca.


Definisi Tauhid Rububiyah

Kata rububiyah di dalam bahasa arab merujuk kepada kata “rabba yarubbu” atau bisa juga dari kata “rabba yurabbi” yang maknanya berkisar kepemilikan, kekuasaan, dan wewenang.


Secara istilah pun tidak jauh berbeda dari bahasa karena memang pada dasarnya definisi secara istilah diambilkan dari definisi secara bahasa, baik sama persis atau menyempit atau meluas maknanya.


Dapat dikatakan bahwa rububiyah juga memiliki kaitan kuat dengan kata Rabb yang berarti pencipta, pemilik, pemelihara, dan pengatur apa yang dipunya tersebut.


Setelah menelusuri asal kata rububiyah, kita beranjak kepada pengertian tauhid rububiyah. Para ulama mendefinisikannya dengan beberapa definisi yang jika didalami akan menunjukkan bahwa substansi definisi-definisi itu sama atau berdekatan, cuma berbeda ungkapannya saja.


توحيد الربوبية كالإقرار بأنه خالق كل شيء، وأنه ليس للعالم صانعان متكافئان في الصفات والأفعال


“Tauhid rububiyah itu berarti berikrar bahwa Allah pencipta semuanya. Tidak ada di alam semesta ini dua pencipta yang setara dari sisi sifat dan kemampuan (perbuatan).” Ini pendapat yang dikemukan Imam Ibnu Abi Al Izz rahimahullah tentang pengertian tauhid rububiyah.


Adapula definisi berikut yang merinci dan menyebutkan sebagian dari perbuatan-perbuatan Allah Ta’ala: 


هو الاعتقاد والاعتراف والإقرار الجازم بأن الله وحده رب كل شيء ومالكه، وخالق كل شيء ورازقه، وأنه المحيي والمميت، والنافع والضار، المتفردبإجابة الدعاء عند الاضطرار، الذي له الأمر كله، وبيده الخير كله، وإليه يرجع الأمر كله، ليس له في ذلك شريك


“Meyakini, mengakui, dan berikrar kuat bahwa Allah satu-satunya Rabb semua hal dan pemiliknya. Dialah pencipta semua hal dan pemberi rezekinya. Dialah yang menghidup dan mewafatkan. Dialah yang memegang kendali manfaat dan mudarat. Dialah satu-satunya yang bisa mengabulkan permintaan di waktu sulit dan mendesak. Dialah yang memiliki kendali penuh. Di tanganNya segala bentuk kebaikan. Dan hanya kepadaNya segala urusan dikembalikan seutuhnya, tiada sekutu denganNya dalam hal tersebut.”


Ada pula yang mendefinisikannya secara ringkas seperti berikut:


توحيد الله بأفعاله


“Mengesakan Allah dalam perbuata-perbuatanNya.”


Definisi berikut lebih singkat lagi dengan menekankan tiga makna dari makna-makna rububiyah sebagaimana dibawakan oleh Syaikh Utsaimin rahimahullah:


إفراد الله بالخلق والملك والتدبير


“Mengesakan Allah dalam penciptaan, kepemilikan, dan pengaturan.”


Dapat disimpulkan bahwa perbuatan Allah mencakup kemahamampuan untuk menciptakan, memiliki, memelihara, dan mengatur alam semesta, serta masih banyak lagi perbuatan-perbuatan Allah yang menurut definisi terakhir dikembalikan kepada tiga hal utama dari rububiyah yaitu penciptaan, kepemilikan, dan pengaturan. Jadi, sebenarnya tidak ada pertentangan antara definisi-definisi diatas karena substansinya sama.


Dalil Dalil Tauhid Rububiyah

Banyak sekali tema seputar keesaan Allah dalam perbuatanNya di dalam Al Quran. Disamping mengangkat tema rububiyah Allah secara umum, Al Quran juga merinci sebagiannya secara khusus.


Dalil rububiyah Allah secara umum,salah satunya ayat yang kita pasti tidak asing dengannya bahkan telah menghapalnya:


{الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين}


“Segala pujian hanya untuk Allah, Rabb alam semesta.” QS. Al Fatihah:2


Dalil rububiyah Allah secara khusus dengan menyebutkan beberapa makna dari rububiyah tersebut, diantaranya sebagai berikut: 


{إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَبَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وتَصْرِيْفِ الرِّيٰحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَآءِ وَالْاَرْضِ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ}


“Sungguh, pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang Allah turunkan dari langit berupa air lalu dengan itu Dia hidupkan bumi setelah mati (kering), Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mau mengerti." QS. Al Baqarah:164


Makanya, sungguh mengherankan tatkala seseorang yang sudah menyadari rububiyah Allah, bahkan telah meyakininya namun masih menautkan hatinya kepada selain Allah dalam ibadah-ibadahnya, baik ibadah hati, lisan, maupun badan. Allah mencela kondisi hambaNya yang seperti ini di ayat berikut:


قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ قُلْ اللَّهُ قُلْ أَفَاتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ لا يَمْلِكُونَ لأَنفُسِهِمْ نَفْعاً وَلا ضَرّاً قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِيالظُّلُمَاتُ وَالنُّورُ أَمْ جَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ خَلَقُوا كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ قُلْ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ 


"Katakanlah (Muhammad): Siapakah Tuhan langit dan bumi? Katakanlah: (Dialah) Allah. Katakanlah: Pantaskah kalian mengambil pelindung-pelindung selain Allah padahal mereka tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diri mereka sendiri? Katakanlah: Samakah orang yang buta dengan yang dapat melihat? Atau samakah yang gelap dengan yang terang? Apakah mereka menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaanNya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka? Katakanlah: Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa." QS. Ar Ra’d:16


Al Quran selalu mengingatkan kita bahwa pengakuan dan keyakinan terhadap rububiyah Allah seharusnya semakin memperdalam hubungan antara kita dengan Allah selaku Pencipta kita sekaligus Sesembahan satu-satunya yang kita ikrarkan. Hubungan yang beranjak dari pengesaan Allah dalam rububiyahNya ini akan semakin tampak dari keseharian kita dimana hati kita akan semakin kuat tertambat pada Allah, kita tidak sulit untuk meminta kepada Allah segala hajat kita melalui panjatan doa, atau sekedar menyampaikan keluh kesah yang kita hadapi dalam menjalani kehidupan dunia. Seiring hal ini, kualitas dan kuantitas ibadah kita akan semakin membaik hingga kita tidak sudi mempersembahkan sedikitpun bagian ibadah kita kepada selain Allah.


Ayat berikut menerangkan ikatan tak terpisahkan antara rububiyah dan uluhiyah Allah yang kita harus akui sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan:


{إِنَّ إِلَهَكُمْ لَوَاحِدٌ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَرَبُّ الْمَشَارِقِ}


Sesungguhnya sesembahan kalian hanyalah satu, yaitu Rabb (pencipta, pemilik, pengatur) langit dan bumi beserta apa yang ada diantara keduanya, Dialah Rabb tempat-tempat terbitnya matahari. QS. Ash Shaffat:4-5


Kandungan Tauhid Rububiyah

Pertama, mengimani keberadaan Allah.

Kedua, mengimani keesaan Allah dalam perbuatan-perbuataNya, tiada yang sebanding denganNya.

Ketiga, mengimani takdir dan keputusanNya untuk makhluk-makhlukNya, termasuk urusan masing-masing dari kita.


Demikian penjabaran dari Tauhid Rububiyah. Semoga bermanfaat, mudah dipahami, dan bisa diamalkan oleh penulis dan segenap pembaca yang budiman.


Referensi:

Rasail fi Al Akidah karya Dr. Muhammad Ibrahim Al Hamd

Al Mufid fi Muhimmat At Tauhid karya Prof. Dr. AbdulQadir Atha Shufi

Asy Syirk fi Al Qadim wa Al Hadis karya Dr. Abu Bakr Muhammad Zakaria

Al Alfadz wa Al Mushthalahat karya Dr. Amal binti AbdulAziz



0 komentar:

Posting Komentar