Tujuh Kaedah Dan Metode Berakidah Para Salaf

Melalui beberapa postingan sebelumnya yang mengangkat topik kedudukan para sahabat Nabi , keistimewaan metode beragama mereka, dan pengenalan singkat sebagian mereka, diharapkan akan tumbuh bersemi kecintaan yang kuat dari pembaca terhadap para sahabat dan metode beragama mereka, terkhusus dari sisi akidah mereka.


Meski tidak dapat menjabarkan semua hal tentang mereka, saya berusaha menyajikan poin-poin terpenting tentang mereka. Semoga hal tersebut menjadi penyemangat kita untuk semakin mantap meniti jalan beragama mereka.


Di postingan kali ini topik yang diangkat adalah kaedah-kaedah penting dalam ranah akidah. Ia laksana ‘pegangan’ kita secara garis besar yang nantinya memudahkan kita dalam menemukan titik terang dari pembahasan-pembahasan akidah yangmana sejumlah kelompok dalam Islam bersilang pendapat dan adu argumen di dalamnya.


Hal itu terjadi lantaran adanya perbedaan metode dan ‘pegangan’ dasar yang akhirnya menimbulkan kerancuan dalam berakidah; hal seperti ini tidak didapati di zaman para sahabat Nabi Muhammad .


Kaedah-kaedah berikut ini akan sangat membantu kita manakala mendapati suatu perbedaan pendapat atau kerancuan dalam suatu bahasan akidah yang tampaknya ‘ilmiah’ di mata awam tetapi bisa saja hakikatnya tidaklah kuat lantaran bertumpu pada logika berpikir yang melenceng keluar batas atau mengacu hanya pada syair atau makna kata secara bahasa untuk menafsirkan suatu dalil sifat-sifat Allah, misalnya.

Setiap pembelajar atau orang yang ingin memperdalam ilmu agama, terlebih ilmu akidah biasanya akan mendapati penjelasan metode Ahlu Sunah atau kaedah-kaedah yang mereka gunakan dalam memaparkan dan meyakini sesuatu sebagai bagian dari akidah Islam agar dirinya nanti mudah meniti jalan para salaf dan para imam kaum muslimin.

Disamping ada usaha untuk memperdalam agama yang dianutnya, seorang muslim juga semestinya tidak melupakan doa kepada Allah agar membimbing dan menunjukinya jalan yang lurus dan terhindar dari ketergelinciran ke jalan-jalan para penyeru kebatilan, baik dari golongan jin maupun manusia.

Salah satu doa yang Rasulullah ﷺ rutinkan dan kita bisa amalkan adalah doa berikut:

‎اللهم رب جبرائيل وميكائيل وإسرافيل، فاطر السماوات والأرض، عالم الغيب والشهادة، أنت تحكم بين عبادك فيما كانوا فيه يختلفون، اهدني لما اختلف فيه من الحق بإذنك؛ إنك تهدي من تشاء إلى صراط مستقيم

“Ya Allah, Tuhan Jibril, Mikail, dan Israfil. (Engkau) Pencipta langit-langit dan bumi. (Engkau) yang mengetahui yang tampak maupun tidak. Dan (Engkau) pula yang memutuskan apa yang diperselisihkan oleh hamba-hambaMu, tunjukkan kepadaku kebenaran yang diperdebatkan tersebut dengan izinMu. Sesungguhnya Engkau memberi hidayah kepada jalan yang lurus bagi siapa saja yang Engkau kehendaki.” [HR. Muslim no.770]

Sudah semestinya kita terus meminta hidayah dan bimbingan dari Allah walaupun sudah mengenali metode beragama para salaf agar tidak tergelincir. Hal itu tidak lain karena kita akan dapati banyak sekali ‘persimpangan’ dan jalan yang bisa mengaburkan tekad kita untuk meniti jalan yang lurus sebagaimana digambarkan di dalam Quran dan Hadis Nabi ﷺ.

Allah berfirman:

‎وَأنَّ  هٰذَا  صِرَاطِيْ  مُسْتَقِيْمًا  فَاتَّبِعُوْهُ  ۚ  وَلَا  تَتَّبِعُوْا السُّبُلَ  فَتَفَرَّقَ  بِكُمْ  عَنْ  سَبِيْلِهٖ  ۗ  

"Sungguh inilah jalanKu yang lurus maka kalian ikutilah! Dan jangan kalian ikuti jalan-jalan (yang lain) sehingga kalian akan terpisah dari jalanNya.” [QS. Al An’am:153]

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan kita dalam hadis yang dibawakan oleh Ibnu Mas’ud رضي الله عنه:

‎خط رسول الله ﷺ خطا بيده، ثم قال: "هذا سبيل الله مستقيما". قال: ثم خط عن يمينه وشماله، ثم قال: "هذه السبل، وليس منها سبيل إلا عليه شيطان يدعو إليه"

“Rasulullah ﷺ pernah menggambar satu garis lurus dengan tangannya kemudian Beliau berkata: “Inilah jalan Allah yang lurus.”

Kemudian Beliau mengambar garis-garis di di sisi kanan dan kiri dari garis lurus tersebut dan berkata: “Inilah jalan-jalan (selain jalan Allah yang lurus) dan setiap jalan itu ada setan yang senantiasa menyeru agar (jalannya) dilintasi.” [HR. Ahmad no.4437]

Demikian. Semoga Allah selalu memberikan taufiq dan kemudahanNya kepada penulis dan pembaca untuk meniti jalanNya yang lurus hingga ajal menjemput. Amin.

Disusun:

Syadam Husein Alkatiri di Kota Nabi ﷺ 


#alukatsir

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram