Assalamu'alaikum

header ads

Menjaga Pilar yang Tak Terlihat

 Mengapa Keamanan Lebih Berharga daripada Harta?

1. Pendahuluan: Sebuah Paradoks Tentang Rasa Aman

Mari sejenak kita syukuri rutinitas pagi ini: melangkah keluar rumah dengan tenang, memarkir kendaraan tanpa kecemasan, lalu masuk ke masjid atau kantor dengan perasaan damai. Namun, pernahkah kita membayangkan jika "pilar yang tak terlihat" ini tiba-tiba dicabut oleh Allah Ta’ala?

Dalam lembaran sejarah awal Islam, kita diingatkan betapa mahalnya rasa aman. Bayangkan Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat sedang bersujud di dekat Ka’bah, dihinakan oleh pembesar Quraisy dengan tumpukan kotoran dan isi perut unta di atas punggung beliau hingga beliau tidak mampu bangkit. Para sahabat pun hidup dalam intimidasi; mereka beribadah dengan sembunyi-sembunyi karena nyawa dan harta selalu terancam. Namun, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjanjikan sebuah masa depan yang gemilang: akan tiba saatnya seorang wanita dapat berjalan sendirian dari satu kota ke kota lain tanpa rasa takut kecuali kepada Allah Ta’ala dan serigala.

Kajian dari Ustadz Dr. Syadam Husein Al-Katiri, Lc., Ma. hafizhahullah menegaskan bahwa nikmat keamanan adalah fondasi utama. Tanpa keamanan, tumpukan harta di rekening bank tidak akan mampu membeli ketenangan saat peluru nyasar atau kerusuhan mengintai di balik pintu rumah.

2. Dua Bentuk Peringatan: Mengapa Kita Masih Perlu Diingatkan?

Manusia adalah makhluk yang mudah lupa, terutama terhadap nikmat yang dirasakan setiap hari secara cuma-cuma. Oleh karena itu, perintah untuk saling memberi peringatan (at-tazkir) sangatlah krusial. Merujuk pada penjelasan Syekh Sadi Rahimahullah, pemberian peringatan kepada orang beriman memiliki dua dimensi:

  1. Mengingatkan Rincian dari Pengetahuan Global: Kita mungkin tahu secara umum bahwa keamanan itu penting, namun kita butuh diingatkan rincian implementasinya agar manfaatnya lebih terasa dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat.
  2. Menghidupkan Kembali Pengetahuan yang Memudar: Kesadaran akan nikmat sering kali luntur seiring berjalannya waktu. Peringatan berfungsi untuk mempertegas kembali ilmu yang sudah mulai terlupakan.

Allah Ta’ala berfirman:

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنفَعُ الْمُؤْمِنِينَ

"Dan berilah peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman." (QS. Az-Zariyat: 55)

3. Pelajaran dari Nabi Ibrahim: Keamanan Sebelum Perut

Bukti teologis mengenai skala prioritas keamanan dapat kita temukan dalam doa Nabi Ibrahim Alaihis salam. Sebagai Khalilurrahman (kekasih terdekat Allah), beliau memahami bahwa kemakmuran ekonomi mustahil dinikmati tanpa stabilitas.

Dalam Al-Qur'an, Nabi Ibrahim Alaihis salam memohon keamanan bagi negeri Makkah sebelum memohon rezeki berupa makanan:

"Wahai Tuhanku, jadikanlah negeri ini sebagai negeri yang aman, dan berikanlah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya..." (QS. Al-Baqarah: 126).

Imam Baghawi Rahimahullah menganalisis bahwa esensi "negeri yang aman" bukan sekadar absennya konflik fisik, melainkan ketika penduduknya memiliki ketenangan di dalam jiwa mereka. Tanpa rasa aman, rezeki yang melimpah hanyalah pajangan yang tidak bisa dinikmati.

4. Keamanan Zahir vs. Batin: Bukan Sekadar Bebas dari Perang

Nikmat keamanan dalam Islam mencakup dua dimensi yang saling menopang:

Keamanan Zahir

Ini adalah stabilitas lingkungan yang memungkinkan aktivitas ekonomi, pendidikan, dan ibadah berjalan normal. Jika keamanan zahir hilang, sekolah akan libur, toko-toko tutup, dan masjid menjadi sepi karena ketakutan.

Keamanan Batin

Ini berkaitan dengan ketenangan jiwa. Seseorang mungkin tinggal di rumah mewah, namun jika ia mengalami kecemasan berlebih (mental health issues), ia belum merasakan nikmat aman. Allah Ta’ala menjanjikan bahwa iman dan amal saleh akan melahirkan Wudda atau kasih sayang yang merekatkan jiwa manusia (QS. Maryam: 96).

Refleksi: Harta melimpah tidak ada gunanya jika nikmat tidur dicabut. Tidur adalah bagian dari keamanan. Jika lingkungan tidak kondusif, rumah semegah apa pun tidak akan memberikan kelelapannya. Uang jutaan rupiah pun tidak bisa membeli sesuap nasi jika semua restoran tutup karena jam malam atau kerusuhan.

5. Enam Protokol Sosial untuk Menjaga Stabilitas Nasional

Untuk menjaga agar nikmat keamanan tetap langgeng, Islam menggariskan protokol hubungan sosial. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan enam hak sesama muslim (haqul muslim) yang menjadi perekat persaudaraan:

  1. Mengucapkan Salam: Ucapan "Assalamualaikum" adalah janji keamanan. Anda secara tidak langsung berkata, "Engkau aman dari gangguanku, baik lisan maupun tanganku."
  2. Memenuhi Undangan: Selama tidak mengandung maksiat, menghadiri undangan memupuk rasa saling menghargai.
  3. Memberikan Nasihat: Memberikan pandangan jujur saat diminta, tanpa niat menjatuhkan.
  4. Mendoakan saat Bersin (Tasymit): Menumbuhkan kepedulian dalam hal kecil.
  5. Menjenguk yang Sakit: Berdasarkan hadis yang dikeluarkan oleh HR. Ahmad, langkah kaki saat menjenguk saudara adalah jalan menuju surga.
  6. Mengantar Jenazah: Penghormatan terakhir yang mempererat ukhuwah.

Jika hak-hak ini ditunaikan, akan muncul kasih sayang yang kuat sehingga tidak ada celah bagi perpecahan yang dapat merusak keamanan nasional.

6. Bahaya "Pemantik Fitnah" dan Sikap terhadap Pemimpin

Salah satu poin paling krusial dalam Manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah adalah larangan memberontak (khuruj) terhadap pemimpin yang sah, meskipun mereka tidak ideal atau mementingkan diri sendiri.

Tujuan prinsip ini adalah mencegah kerusakan (mudarat) yang lebih besar. Sejarah mencatat betapa banyak pergolakan yang berujung pada pertumpahan darah, runtuhnya ekonomi, serta ribuan istri menjadi janda dan anak-anak menjadi yatim. Kita harus belajar dari kebijaksanaan para sahabat Nabi Radhiyallahu anhum saat terjadi fitnah besar seperti Perang Jamal dan Perang Siffin.

Meskipun melibatkan sosok mulia seperti Ali bin Abi Thalib, Aisyah, Zubair bin Awwam, Talhah bin Ubaidillah, hingga Muawiyah Radhiyallahu anhum, mayoritas sahabat memilih untuk "menyarungkan pedang" dan menahan lisan. Mereka memahami bahwa perselisihan tersebut adalah hasil ijtihad para tokoh, dan bagi kita, keselamatan umat jauh lebih utama daripada memperkeruh suasana.

Imam At-Tabarani Rahimahullah menyebutkan dalam sebuah riwayat bahwa fitnah itu awalnya tertidur, dan terlaknatlah orang yang membangunkannya. Hal ini sangat relevan dengan fenomena "Dai Provokator" yang melalui orasinya membakar emosi pemuda untuk terjun ke medan konflik, sementara dirinya sendiri menyekolahkan anak-anaknya di tempat yang aman seperti Inggris atau negara Barat lainnya. Strategi terbaik saat fitnah melanda adalah menahan diri dan tetap bersabar sebagaimana wasiat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

7. Penutup: Membungkus Rasa Syukur

Keamanan yang kita rasakan hari ini bukanlah sesuatu yang terjadi secara otomatis, melainkan titipan yang harus dijaga dengan iman, amal saleh, dan akhlak. Mari kita bercermin pada wilayah-wilayah yang hari ini terkoyak oleh konflik untuk menyadari betapa mahalnya rasa aman yang mungkin selama ini luput dari rasa syukur kita.

Pertanyaan Reflektif: "Jika hari ini keamanan kita dicabut oleh Allah Ta’ala, manakah dari harta kita yang benar-benar bisa menolong kita?"

Semoga bermanfaat.



Catatan:

Ini adalah intisari dari kajian yang disampaikan oleh Ustaz Dr. Syadam Husein Alkatiri di Mushalla Asy-Syifa Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Posting Komentar

0 Komentar